365 Hari

365 hari semenjak saat itu. Dengan segala prasyarat yang kamu iyakan meski kamu tak tau akan mampu bertahan berapa lama.

We’ve been thru hurricanes and calm storms. I’ve been mad at you for hundreds of times, but I choose not to leave, eventhough I can run away anytime I feel ‘enough’ of your presence. But, again, I stay. I stay with your uneasy mood, your somehow possessive love, your unbearable sarcasm, and your sloppy character.

It’s been 365 days and I still love you more than words can describe. 

Felice anniversario tesoro. Buon anniversario di primo. πŸ’™

Thank you for your patience, your never ending love, and everything I couldn’t mention, but still be grateful of. See you when I see you, πŸ»πŸ’™


Ksatria, Matahari, dan Bijaksana

Dulu, aku pertama berjumpa Sang Matahari di peristiwa yang tidak terduga. Menjadi sumber cahaya dan kehangatan, itu kesan pertamaku. Matahari menjadi teman yang tak pernah bisa tak kuhiraukan–mungkin karena kehangatan yang ia cipta effortlessly. Aku kagum, sebagai teman, awalnya. Lalu, aku lebih kagum lagi ketika Matahari selalu menjadi penerang dalam tiap usahaku. Mungkin aku jatuh cinta. Jatuh cinta pada bias-bias cahaya yang jatuh lewat kebaikan-kebaikannya untukku. Dengan segala upaya, aku mencoba menerka, mendekat, tapi pada akhirnya, Matahari selalu memilih Rembulan. Tahun pun bergulir, dengan mengatasnamakan persahabatan, aku menekan segala ego dan mendukung kisah mereka. Meski saat ini, Matahari memilih untuk sendiri menyinari Bumi–yang belum ia temui.

Dan, disitulah aku mengenal Sang Ksatria–di keadaan yang sedang carut marut karena ketidaktahuanku. Ksatria menjadi tempat lariku, kala aku tak mampu membendung segala perasaanku. Ksatria jugalah yang mengajarkanku untuk stay strong dan menjadi orang yang lebih baik. Aku seketika paham kenapa Ksatria adalah Ksatria. Karena Ksatria adalah sosok yang lewat hunusan-hunusan pedangnya, mengajarkan kebaikan dan menyelamatkan orang-orang dari ketidaktahuan. Aku menyadari bahwa aku, ternyata, memang mengagumi Ksatria. Kekaguman yang seringkali membuat kesalahpahaman karena ia selalu berpikir 2-3 langkah lebih cepat dari rata-rata orang. Bertahun-tahun sejak saat itu, kekagumanku masih ada, tapi its form sudah berubah. Mengidolakan Ksatria bukan hal yang mudah untukku. Berkali-kali, aku berpapasan dengannya, tanpa pernah tau kenapa. Berkali-kali pula, ucapan tajamnya menusukku. Aku menganggapnya sebagai keluarga. Dan mungkin, dia tidak.

Suatu hari, aku ingin menyelesaikan segala kesalahpahamanku dengan Sang Ksatria. Lewat hal-hal yang tak bisa kuceritakan disini, aku dan Ksatria bersepakat untuk menjadi kerabat, dimana ia akan tetap menjadi Ksatria yang memberi kebaikan dan aku tetap menjadi pendukungnya untuk menemukan Tuan Putri. Hari itu pun tiba. Hari dimana Ksatria menjemput Tuan Putri. Continue reading


Yang Keempat

Aku tidak pernah merasa setidak-yakin ini, ketika harus memutuskan memilih. Belum pernah ada sebuah keputusan yang membuat kepalaku harus berdengung berhari-hari. Aku, dalam ketidakyakinanku, terus membentengi pada apa-apa yang mendekatkanku padamu. Berkali-kali pula aku mempertanyakan perasaan-perasaan yang sering kali membingungkanku. Lalu, tiba-tiba saja aku sudah jatuh cinta pada keinginanmu: meyakinkan aku.

Itu, adalah alasan kesatu.

Menjadi yang diinginkan ternyata memang menyenangkan. Apalagi ketika diinginkan seperti aku adalah satu-satunya yang mampu membahagiakanmu. Padahal, justru aku yang berbahagia hanya dengan keberadaanmu. My heart skips a beat, a milisecond faster in the way I’d never dreamed of, but now.

Itu, adalah alasan kedua.Β  Continue reading


Barangkali memang tak pernah terlintas olehku bahwa yang akan bersamaku sekarang ini kamu. Barangkali pula namamu tak pernah terucap dalam doa-doa malamku hingga kemarin. Barangkali inilah kebetulan menyenangkan yang kita sebut dengan ‘takdir’.


Aku masih saja bertanya-tanya tentang kita hingga detik ini. Apakah kebersamaan ini nyata? Apakah kamu benar-benar menerimaku apa adanya? Apakah kita memang ditakdirkan untuk bersama? Aku masih meragu, bukan kepada kamu, tapi kepada kemampuanku untuk menyayangimu sebesar kamu ke aku. Aku masih tak percaya diri dengan kebersamaan kita–yang terasa dekat, namun nyatanya jarak membuat kita jauh. Aku mungkin memang masih belum seyakin kamu, tapi diatas semua ketidakyakinanku, aku sedang berharap selama ini memang kamu.


Kamu menjatuhcintaiku seolah aku-lah satu-satunya sumber bahagiamu. Kamu menyayangiku seolah aku-lah alasanmu untuk berbahagia tiap hari. Kamu memelukku seolah aku-lah yang paling kamu takuti pergi dari hidupmu. Continue reading



Kalau pergi bukan berarti meninggalkan, maka datang bukanlah pertemuan. Kalau pergi bukan berarti membiarkan, maka kembali bukanlah kepedulian. Kalau pergi bukan soal siapa, maka pulang bukanlah tentang kapan.


Bukankah pergi membutuhkan lebih dari sekedar niat atau keinginan? Karena pergi berarti merelakan. Merelakan kesempatan, waktu, atau seseorang. Menjadi seseorang yang pergi, tidak pernah mudah, bukan? Memaksakan diri untuk tidak perduli lagi, padahal hati menjerit-jerit ingin mengulurkan tangan. Memaksakan bibir untuk tetap tersenyum, padahal airmata sudah tidak bisa terbendung di sudut mata. Memaksakan tubuh untuk tetap menatap ke depan, padahal kepala ingin menoleh ke belakang. Pergi berarti melapangkan yang berharga, demi memeluk bahagia, meski berarti tak bisa lagi berdua. Continue reading



Kurasa tidak pernah ada memilih yang mudah. Entah memilih diantara dua, atau memilih satu untuk bersama. Kurasa tidak ada yang ingin mendapatkan kesempatan untuk memilih jika pilihan-pilihan yang ada malah makin membuat keruh keadaan. Tidak ada yang mau berada di posisi penentu untuk melanjutkan dengan koma atau menghentikan dengan titik. Kurasa, memilih memang tak pernah memudahkan hidup.

Kalau pilihan punya perasaan, tentu masing-masing punya pembelaan atas dirinya untuk dipilih. Kalau pilihan punya logika, tentu masing-masing berlomba memberi alasan yang menurutnya paling masuk akal. Masing-masing pilihan tak ada yang meminta jadi yang pertama, apalagi diminta jadi yang kedua. Sekiranya ada kesempatan untuk mengutarakan, mungkin tiap pilihan akan meminta untuk jadi satu-satunya jawaban–bukan satu diantara dua.

Kukira memilih hal terjahat yang bisa dilakukan oleh seorang manusia adalah memilih satu diantara dua. Dan hal terkejam yang diberikan untuk seorang manusia adalah hak untuk memilih satu diantara dua. Bagaimana kita bisa memilih kalau dua-dua sama-sama baik? Bagaimana kita bisa memilih kalau keduanya Continue reading


Aku selalu takut jatuh sejak pertama kali aku mengenal kata sakit. Aku teringat dulu aku jatuh dari sepeda roda tiga yang belum lama aku punya. Kata ibu, aku terlalu bersemangat mengayuh sampai akhirnya oleng dan jatuh. Kakiku lecet, tanganku kotor, dan aku menangis layaknya seorang balita menangis. Ibu bilang, ‘Sudah, jangan nangis. Ngga papa, huss huss sakitnya hilang. Sepedanya nakal ya, nih Ibu marahin, tapi Tita juga hati-hati ya. Cup cup cup.‘ Belum sampai sepuluh menit, aku sudah lupa dan berlari menuju sepedaku lagi seolah tak pernah terjadi apa-apa. Dan seperti itulah pertemuanku dengan jatuh dan mengenal sakit.

Suatu hari di usiaku yang ke 9, aku sedang bermain perang-perangan di teras rumah seorang teman. Sampai tiba-tiba, pijakan yang kukira lantai ternyata justru tangga. Aku jatuh, menggelinding sampai tangga paling bawah. Aku yang 9 tahun masih sama dengan aku yang balita, menangis. Kepalaku nyut-nyutan, sakit. Tapi, tak berapa lama aku sudah duduk berdua menonton TV dengan temanku. Diam-diam aku menyentuh kepala, dan ada darah disana. Aku pun berlari ke rumah, lalu berteriak sambil merengek, ‘Bapaaak, kepalaku berdarah. Huhuhu‘, dan dengan segera bapak melihat kepalaku. Bapak bilang, ‘Ngga papa, Ta, ngga papa, dikasih lidah buaya ya, agak sakit dikit, biar lukanya kering, mungkin nanti ada bekasnya. Kalo main hati-hati, udah, gausah dipegang-pegang.‘ Sebulan kemudian lukaku kering, meski ada sedikit pitak di kepala yang pelan-pelan ditumbuhi rambut, dan tentunya, bekas luka. Oleh-oleh jatuh dari tangga, kata bapak. Aku menyadari kalau jatuh ternyata bisa menyebabkan luka yang membekas meski sudah disembuhkan.

Sampai akhirnya aku mengenal jatuh yang lain. Jatuh yang menyenangkan. Jatuh yang membuat perut rasanya terlilit sesuatu. Jatuh yang membuatku senyum tiap matahari menyambut. Jatuh yang saat itu aku tau tidak sakit. Namanya: jatuh cinta. Continue reading