Bandung dan Si Kecil Keysha

One day, kami pemuda – pemudi Teladan Jayamahe mengadakan perjalanan yang bisa dibilang cukup jauh; Bandung. Sebuah kota di Jawa Barat, padat merayap, namun tak sepadat dan seterik Jakarta. Well, it’s very nice place, after all. Then, there was us. Setelah melalui sekitar 7jam perjalanan -yang sangat dan super melelahkan. Duduk terus men! :B – dengan kereta api merk economy, sampailah kami di Kota Kembang, Jawa Barat. Ah ya, belum kujelaskan, siapakah kami, siapakah pemuda – pemudi ini. Aku jelaskan terlebih dulu. We are ..

Kami adalah keluarga kecil Pengurus Harian OSIS Bhinneka Teladan Bhakti 2009/2010. Terdiri dari Mahendra Astu Sanggha Pawitra – si kriwil yang ceriwis ini, Mitratama kami yang bijaksana berkharisma; Naufal Salim Mutthohari – si hitam bersuara menggelegar yang pinter Matematika ini, Mitramuda I kami yang berintelektual dan olahragawan sejati; Adientya Nur Prihantara – si cino gokil ini, Mitramuda II kami yang pedas namun brilliant. Lintang Nur Fadhlillah – si serem tomboy ini, Sekretaris Umum kami yang tegas, sabar dan tahan banting; Mutiara Tita Trisnawijaya – tak lain tak bukan adalah aku, si kacamata yang bermobilitas tinggi ini, Sekretaris I kami yang berpredikat ‘tukang ketik’ sepanjang masa dan berpeduli tinggi; Indah Retnowati – adek kami, si tomboy mboyo yang Olimpiade Fisika ini, Sekretaris II kami yang sangat peka, tegar dan tak pernah mengeluh; Cascarilla Novi Wahyudha – si ndut baik hati dan tegar ini, Bendahara Umum kami yang keibuan, sabar, dan jelas : cino; Rika Ernawati – si serem bersuara lantang yang super-cino ini, Bendahara I kami yang rajin dan cakcek dalam keorganisasian;

Arief Joko Wicaksono – si ‘tampan’ jago merayu ini, Seksi Bidang I kami yang jenius dan konyol; Ivan Adela Sulistyawan – adek kami, si moody tapi geje ini, Seksi Bidang II kami yang ber-ide cemerlang menakjubkan; Mamnuni(k) – si nama tersingkat berfisik kuat yang rada nylekit ini, Seksi Bidang III kami yang berpendirian kuat dan surely tegas; Halim Futu Wijaya – si hitam suram suka nge-banyol ini, Seksi Bidang IV kami yang murah senyum dan berwibawa; Nur Aini Dwi Andini – si pejuang tangguh ngeyelan yang pernah amnesia ini, Seksi Bidang V kami yang gigih, sangat tegar dan tak kenal lelah dalam berdakwah; Ikhsan Nur Arifin – adek kami, si ramah yang masih emosional, Seksi Bidang VI kami yang serius-santai tapi mampu mencairkan suasana dimanapun ia berada; Raka Ahsanul Huda – si bayi wangi yang punya kembaran ini, Seksi Bidang VII kami yang kecil-kecil jago voli, asik dan adaptable; and the last is Kartika Nur Rahma Putri – si cempreng jago Matematika dari Kota Tuban dan paling tua seangkatan ini, Seksi Bidang VIII kami yang childish, puitis dan murah hati. Itulah kami, keluarga kecil yang hangat dan menghangatkan (cozy). Di perjalanan ini, Halim absen karena darah rendahnya masih kumat dan setelah kami sampai, dikabari kalo dia mondok, cuma bisa cheer him up and said ‘get well soon’. Jadilah kami ber-limabelas.

Okay, back to the story. Well, setelah melalui perjalanan yang cukup panjang itu, kami bersama beberapa guru; Bu Nur Rosyidah (beserta satu anaknya) dan Bu Sumilir; dijemput Babe tercinta : Pak Singgih, on the way to hotel; even actually we could call it wisma (~.~); kita tengok kanan-tengok kiri melihat keindahan Kota Kembang yang truly awesomeeeeee! Apalagi waktu itu kami nglewatin Masjid Raya Bandung yang subhanallah besar dan luas banget! -walaupun at least, kita nggak jadi ke sana soalnya kita molor pas keliling ITB, sedih banget-

Masjid Raya Bandung (ambil dgoogle, foto yg tk punya dtmpt Illa)

Then finally, we arrived in Wisma (for now on, i’ll call it wisma, okay?).

Sebelumnya, i’m truly sorry, because it’s about Keysha, langsung lompat ke hari berikutnya ya. Tentang kami studi banding di Bandung, i’ll tell you later.

Taman Hutan Raya Ir H Djuanda

Singkat cerita, keesokan harinya, hari Jum’at siang kita langsung pergi ke Jalan Curug Omas; melewati Dago, ke arah menuju Lembang. Nggak begitu jauh dari Dago sebenernya, cuma macet aja. -__- Ohya, kita ke sana sama kakak laki-lakinya Bu Singgih; yang anak pertamanya pacarnya salah satu personil RAN (super nggak penting ya); maksudnya, Pakdhe; kita manggilnya Pakdhe; yang tau jalan gitu, jadilah Pakdhe yang nyetir di depan, Babe di belakang dengan mobilnya. Dan sampailah kita di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, yang sejuuuuuuk banget; jelaslah, pohon semua (doh). Setelah berkeliling cukup lama dan waktu sudah menunjukkan untuk melaksanakan shalat Jum’at, kita pun keluar sambil duduk-duduk di luar. Para pria pun segera ke mushola warga yang memang disediakan diΒ  luarΒ  Taman Hutan tapi masih di area lingkungan Taman. Sekitar hampir satu jam kami (para wanita) menunggu, selesai sudahlah mereka shalat, dan giliran kami yang menunaikan ibadah. Jalanan setapak yang di kanan-kiri nya adalah rumah warga, mengiringi kami ke mushola. Tidak kecil; bisa dibilang mini; tapi cukuplah kalo untuk 20 an orang shalat mushola itu. Lagi ngobrol seru dan bercanda sama anaknya Bu Nur (maaf Bu, saya lupa namanya. -__-), aku yang masih bawa kamera buat motret sekeliling, nggak sengaja ngeliat seorang anak kecil lagi ngintip kami di jendela rumahnya; rumahnya tepat di selatan mushola, menghadap ke timur; anak perempuan lucu buangeeeeet, imut, rambutnya kriwil-kriwil (it wasn’t and wouldn’t be like Mahe), pokoknya aku jatuh cinta! πŸ˜€

Keysha

Aku berhalo-halo mendekati jendelanya, dia malu-malu trus nutup gorden, eh buka lagi. Dan temen-temen lain yang liat pun juga sama jatuh cintanya. Trus kami ngomong, “Halo, namanya siapa?” Eh, trus dia pergi. Sedih deh. Suddenly, si anak kecil imut lucu nan cantik itu udah muncul bersama -kalo gak salah sih- bundanya, berlari-lari kecil ke arah kami (waktu itu lagi antri wudhu, gantian). Bundanya bilang, “Ini main sama teteh ya.” dan bundanya pun pergi. (Aku berpikir, orang Bandung itu rasa percayanya sama orang lain tinggi ya. Nggak kenal tapi langsung nitipin anaknya coba. By the way, thanks for your trust then). Langsung deh, anak imut itu jadi serbuan kami; Bu Milir sama Bu Nur cuma ngeliatin. Ditanyain, “Namanya siapa?” “Keysha.” “Udah sekolah belum?” “Emm.. Udah, kelas 2” “Masak? Bohong yaa hayoo? Umur berapa Keysha?” “2 tahun.” Bisa ditebaklah, anak kecil gitu ngaku-ngaku kelas 2 SD -___- Oh, I forgot, si Keysha ini bawa boneka Barney (yang kayak dino, warnanya ungu, yang sukanya di TV pagi-pagi sekitar 3-4 tahun yang lalu) sama boneka Minnie Mouse. Waktu itu, aku bilang, “Wah, bonekanya lucu yaa..” trus dia bales, “Ini, Baalneey (dengan logat B nya dibaca sedikit berbeda, gitudeh lucu banget pokoknya :D)” Aku ngomong lagi, “Oh, Barney ya, sama Minnie.” Dia tiba-tiba ngomong, “Halooo Baalneeey.. Halooo” (H nya dia ngomong kayak huruf ha titik bawah di huruf hijaiyah) Trus aja dia ngomong gitu. Dia itu heboh banget, ketawa terus, kupuaskan motret deh, lumayankan dapet objek yang imut. πŸ˜€

Terus-terusan Keysha ngomong ‘Halo Balneey’ nya, sampai kita gemes banget, jadilah pipinya sasaran cubitan. Pikirku, kok ya ada anak selucu ini ya. Mau banget, tak jadiin adek, tak culik bawa pulang ke Jogja. Waktu kamis halat pun, dia malah lari-lari di dalem mushola pake sepatu -__- aduh, Keysha. Belum sempet kami foto bareng, udah diburu waktu dan si perut yang nyaring ini. Finally, kita berpisah deh sama Keysha yang nggemesin ini. Di situ ada -kayaknya- pengasuhnya yang dateng nggak lama setelah kami selesai shalat. Pertemuan yang hampir satu jam bersama Keysha itu, ngena banget di hati kami masing-masing. Jadi semangat banget nyariin anak kecil asli Bandung haha πŸ˜€

Then, here, her photos taken by me. Selamat jatuh cinta! πŸ˜€

Anyway, i’m truly sorry, ini tentang Keysha tapi malah banyak cerita pengantarnya. Hehe. Maafkan ya. Enjoy.

 

 

This is all about. Thanks for reading. Danke!
Advertisements