The Ultimate Life

Sebuah kisah yang mengangkat aspek-aspek kehidupan yang mungkin terlewatkan. Karunia-karunia hidup : Karunia Kerja, Karunia Uang, Karunia Teman, Karunia Pemelajaran, dll.

Bercerita tentang seorang hakim yang mengurus kasus mengenai surat wasiat seorang kakek. Kakek tersebut mewariskan beratus juta dollar untuk anak-anaknya, namun ia memberikan kepada cucunya, Jason, untuk mempelajari pelajaran hidup yang sesungguhnya, baik melalui kata-katanya dalam rekaman video maupun tugas-tugas yang harus dilaksanakannya. Masing-masing video mengungkapkan pikiran dan pengalaman kakek tersebut menyangkut masing-masing karunia.

Dan ini beberapa diantaranya.

 

 

Karunia Kerja.

“Jason, saat aku jauh lebih muda darimu sekarang, aku belajar tentang kepuasan yang muncul dari kata sederhana yang terdiri dari lima huruf: kerja. Salah satu hal yang dirampas kekayaanku darimu dan seluruh keluarga kita adalah hak istimewa serta kepuasan yang muncul dari menjalani hari kerja yang jujur.

“Kini, sebelum kau marah, kalap, dan menilai segala yang akan kukatakan kepadamu, aku ingin kau menyadari bahwa kerja telah mendatangkan bagiku semua yang kini kupunyai adalah apa yang kaudapatkan.

“Kenangan paling awalku di daerah rawa-rawa di Louisiana adalah tentang kerja—kerja keras membanting tulang yang sebagai seorang anak muda, sangat kubenci. Orangtuaku punya terlalu banyak mulut yang harus diberi makan dan tak punya cukup makanan, jadi kalau kami ingin makan, kami bekerja. Kemudian, ketika aku berdiri sendiri dan datang ke Texas, aku menyadari bahwa kerja keras telah menjadi satu kebiasaan bagiku, dan ia memberikan kesenangan yang sesungguhnya di seluruh sisa hidupku.

“Jason, kau telah menikmati hal-hal terbaik yang dapat ditawarkan oleh dunia ini. Kau sudah pergi ke mana-mana, sudah melihat segalanya, dan sudah melakukan segalanya. Yang tidak kau mengerti adalah betapa menyenangkannya hal-hal itu bila kau memperolehnya dari hasil kerjamu sendiri, ketika waktu luang menjadi imbalan atas kerja keras, bukan cara untuk menghindari kerja.”

Karunia Uang.

“Hari ini kita akan bicara tentang sesuatu yang mungkin merupakan komoditas yang paling salah dipahami di dunia. Itu adalah uang. Sama sekali tak ada yang dapat menggantikan uang dalam hal-hal yang dilakukannya, tapi mengenai hal-hal lainnya di dunia ini, uang sama sekali tak berguna.

“Sebagai contoh, seluruh uang yang ada di dunia ini tak akan bisa membelikanmu satu hari lagi saat kau sampai di akhir masa hidupmu. Itulah sebabnua sekarang kau menonton rekaman video ini. Dan penting kiranya menyadari bahwa uang tak akan membuatmu bahagia. Segera setelah kutambahkan di sini bahwa kemiskinan juga tak akan membuatmu bahagia. Aku pernah kaya, dan aku pernah miskin—dan bila segala hal lainnya sama—kaya itu lebih baik.

“Jason, kau tidak punya ide atau konsep tentang nilai uang. Itu bukan salahmu. Itu salahku. Tapi, aku berharap dalam tiga puluh hari ke depan kau akan mulai mengerti arti uang dalam kehidupan nyata orang-orang di dunia yang nyata. Lebih banyak kekerasan, kecemasan, perceraian, dan ketidakpercayaan di dunia ini yang dikarenakan kesalahan memahami uang ketimbang faktor lainnya. Ini adalah konsep yang asing bagimu karena uang bagimu selalu tampak seperti udara yang kauhirup. Selalu tersedia lebih banyak. Yang perlu kaulakukan hanyalah menghela napas berikutnya.

“Aku tahu kau selalu menghamburkan banyak uang dan membelanjakannnya dengan sembrono. Aku bertanggungjawab atas situasi ini karena telah mencerabutmu dan hak istimewa untuk memahami pertukaran yang adil antara kerja dan uang.”

Karunia Teman.

“Kini aku akan membagi sebuah cerita kepadamu, Jason, yang dulu pernah kujanjikan tak akan pernah kuceritakan selama aku hidup. Karena kau menonton ini setelah kematianku, dan di tengah kehadiran orang yang kepadanya dulu aku berjanji, aku merasa nyaman untuk membagi cerita ini. Seperti kauketahui, aku hidup melewati ulang tahungku yang ke-75 dan menikmati apa yang bagi kebanyakan orang merupakan hidup yang panjang dan sehat. Tapi, ini tak selalu pasti.

“Aku ingat saat aku baru mencapai usia 38 tahun dan dirawat di rumah sakit karena menderita demam yang sangat tinggi. Para dokter tidak pasti aku sakit apa, jadi mereka mendatangkan segala mcam spesialis dari seluruh pelosok negeri. Akhirnya, aku didiagnosis menderita penyakit ginjal langka yang tak bisa disembuhkan. Satu-satunya harapan yang mereka berikan adalah cara baru yang disebut cangkok ginjal.

“Kau harus menyadari bahwa cara pengobatan ini belum pernah terdengar pada masa itu, dan donornya tidak tersedia dengan mudah seperti sekarang. Aku menelepon Mr. Hamilton, yang selama ini selalu betindak sebagai pengacaraku, dan mengatakan kepadanya bahwa kami perlu mulai melakukan pencarian ke seluruh penjuru negeri untuk mendapatkan sebuah ginjal. Aku sangat takut karena dikter spesialis itu berkata tanpa pencangkokan ginjal aku tak akan bertahan lebih dari beberapa minggu. Kau bisa bayangkan betapa leganya aku saat Mr. Hamilton meneleponku dua hari kemudian dan memberitahuku bahwa dia telah mendapatkan sebuah ginjal di Pantai Timur.

“Yah, seperti yang aku yakin bisa kauduga, operasi itu berhasil dan memberiku kembali hampir separuh dari kehidupan dewasaku. Yang aku yakin tak bisa kau duga, dan yang tak seorang pun ketahui sampai saat ini, adalah ginjal yang ditemukan oleh Mr. Hamilton adalah ginjalnya sendiri.

“Hanya ada satu cara di dunia ini untuk menjelaskan sesuatu seperti itu, dan itu disebut persahabatan.”

Aku membayangkan emosi-emosi yang muncul bila memberi seseorang salah satu ginjalku, dan lebih jauh membayangkan mempunyai seorang teman pada level yang begitu dalam hingga dia bersedia menyerahkan salah satu ginjalnya untukku.

Karunia Pemelajaran.

“Seperti kauketahui, aku tak pernah mengenyam pendidikan formal, dan aku tahu kau memiliki semacam gelar dari perguruan tinggi terkenal tempat kami mengirimmu, yang sebenarna hanya sedikit lebih baik daripada lapangan permainan bagi orang kaya yang suka bermalas-malasan.

“Sekarang sebelum perasaanmu benar-benar terluka, aku ingin kau menyadari bahwa aku menghormati universitas, juga tipe pendidikan formal apapun. Hanya saja, itu bukan bagian kehidupanku. Yang merupakan bagian kehidupanku adalah keingintahuan dan hasrat yang selalu muncul untuk mempelajari sefala hal yang aku mampu tentang orang-orang serta dunia di sekitarku. aku tidak mampu berskolah lama setelah aku belajar membaca, tapi kemampuan membaca, berpikir, dan mengamati menjadikanku orang yang relatif terdidik.

“Tapi, belajar adalah suatu proses. Kau tak bisa hanya duduk di ruang kelas, lalu suatu hari melangkah turun dari panggung dengan mendapat gelar diploma dan menyebut dirimu terdidik. Aku yakin alasan upacara kelulusan disebut commencement (permulaan) adalah karena proses belajar baru dimulai—commences—saat itu. Pendidikan yang berlangsung sebelumnya hanya menyediakan perangkat dan kerangka untuk pelajaran-pelajaran sesungguhnya yang akan datang.

“Dalam analisis final, Jason, kehidupan—bila dihayati dengan makna-makna bentukanmu sendiri—adalah guru tertinggi. Kekayaan dan kesuksesanku telah mencerabutmu dari hal itu, dan inilah upaya maksimalku untuk memperbaiki kerusakan itu.”

***

Dan sampai manakah kita memaknai sebuah kehidupan, kawan? Apa yang kita cari di dunia ini? Profesi? Uang? Atau kenyamaan dan ketentraman hidup? Sudahkah kita berkorban untuk sahabat-sahabat kita—yang katanya friendship never ends? Sudahkah kita memberitahu mereka bahwa mereka begitu berarti?
Jangan pernah lupa, untuk tetap bersyukur atas apa yang kita dapat. Maknai hidupmu dengan hal-hal yang tak akan kausesali nantinya. Bekerja keraslah, berlelah-lelahlah. Uang tak akan mampu membeli waktu untuk menambah, mengurang atau bahkan mengembalikannya. Innallaha ma’ana, Allah selalu bersama kita. Dekatkan diri padaNya, niscaya hidupmu akan lebih bermakna. Allah selalu tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. ^^
Semangat teman-teman!
Berlarilah! Kita tak punya banyak waktu!
Sampai jumpa di puncak kesuksesan! 😀

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s