Teladan, Tempat Berjuta Kisah Bermula #Part1

Hanya tinggal hitungan jam kawan, kita akan resmi bersandang nama ‘Alumni Teladan 2011’. Dan ijinkan aku untuk sedikit berbagi. Kisah terhebat dalam rentetan panjang usiaku ini. Sebelum melanjutkan baca, cobalah sambil menyetel beberapa lagu untuk mengiringi. Such as, Kisah Klasik-SO7, Sahabat Sejati-SO7, Kita-SO7, Ingatlah Hari ini-Project Pop. Apapun, yang kalian rasa lagu itu selalu mengingatkan tentang rumah kedua kita, kampus paling hebat, tempat berjuta kisah bermula.. Teladan beserta isinya. ^^

Kutulis rangkaian cerita ini, di kala detik-detik penghabisan masa. Entah kenapa, ingin menuliskannya–menuliskan kisah-kisah itu. Inginku tak terlewat satupun, namun nyatanya, ingatan ini terbatas pada momen-momen tertentu–tak benar-benar semua. Aku tak pandai merangkai kata, hingga yang terungkap mungkin tak sebenar-benar mewakilkan perasaan sebenarnya. Maka, maafkan jika satu atau banyak yang tak berkenan.

***

Pagi yang cerah, dengan sinar mentari yang masih malu-malu. Pagi ini aku putuskan untuk berangkat lebih awal. Ke tempat itu. Tempat yang selalu kurindu dengan seisinya. Yaki, sekarang aku telah berdiri di depan sebuah gerbang coklat-kemerahan yang kokoh–meski tua–dan bersegera untuk masuk. Aku melewati sebuah papan pengumuman besar di sebelah kananku, kudapati diriku mengingat–deretan nama anak-anak cerdas pernah tertempel disitu–olimpiade. Kuteruskan langkahku, sembari menengok ke arah pos satpam dan menyapa satpam-satpam paling baik yang pernah kutemui,

“Pagi Pak! Hehe,” dan seorang satpam yang familiar denganku menjawab,

“Weh tumben pagi-pagi udah dateng.” Dan aku hanya meringis sambil mengangguk pergi.

Lalu, kuedarkan pandangan sambil meneruskan perjalanan. Di depan tulisan SMA Negeri 1 Teladan Yogyakarta, kuhentikan langkahku. Sejenak membiarkan memori-memori terkuak. Disini aku punya cerita. Foto bersama teman-temanku, bersama tamu-tamu yang berkunjung. Disini pula, aku kadang duduk-duduk bersama mereka. Spot yang bagus, pikirku. Kemudian, kulangkahkan kaki menuju lapangan tempat banyak cerita terjadi–Lapvol. Masih rindang, meski tak serindang tahun pertamaku dulu. Aku ingat betul, tiap kali upacara, semua berebut dibelakang, mencari yang teduh atau agar sekedar bisa curi-curi duduk. Kadang malah menggosip atau main HP diam-diam, tak menghiraukan ucapan pembina yang sering kepanjangan. Haha. Atau bahkan, saat tak memakai sepatu pantovel, justru berebut ditengah, agar tak terazia guru yang sering berhilir-mudik mengamati. Insiden upacara pun pernah terjadi saat bendera tak sengaja terpelintir, hingga PHHB dan petugas mendapat ‘sarapan’ masing-masing 5 seri dari Pak Singgih dan seorang kakak tonti–mengenaskan. Pun dengan pingsannya seorang teman saat upacara, yang hebohnya membuat pembina upacara terdiam sejenak. Atau malah upacara terakhir yang tak terlupakan–berdiri di sebelah barat–karena banyak yang tak memakai atribut–mentang-mentang kelas 12. Haha. Upacara HUT pun tak kalah seru, aku ingat betul, warna-warni balon menghiasi langit, dan performance anak-anak tonti yang berformasi. Ditambah lagi, gebrakan baru dari HUT 52–yang menjalankan acara baru, bersepeda keliling dengan bendera warna-warna berlambang tugu teladan. Atau acara 17an yang menggigit, dipenuhi kostum-kostum unik, siap untuk gerak jalan meski terik matahari menyengat. Haha, aku terkikik sendiri mengingatnya.

Lapvol multifungsi, batinku. Tempat duduk ini, pernah menjadi saksi bisu kebersamaanku dengan mereka. Dengan teman-temanku atau bahkan adik-adik kelasku–dalam alunan cerita masing-masing. Ingatanku kembali pada awal masa, saat aku dan teman-teman seperjuanganku berlatih keras disini. Dengan teriakan lantang kakak-kakak yang menginstruksi. Belum lagi, rapat pertamaku, rapat buka bersama tonti–yang mana penuh canda, sering pergi bersama, dan guyonan khas seorang temanku. Juga, kala tahun itu bertugas mengiringi wisuda, begitu mengharukan. Ah, tak akan habis kuurai satu per satu. Terlalu banyak kenangan indah. Sejenak, kunikmati angin semilir di bawah rindang pohon cemara. Lapvol memang benar-benar cozy.

Beranjak dari lapvol dan semua kisahnya, kutuju lantai merah dengan tulisan SMA Negeri 1 Yogyakarta tergantung gagah di atas. Aku berdiri sejenak, memandang sebuah nama sekolah yang membuatku bangga–hingga detik ini. Aku ingat, lantai merah depan lobby adalah salah satu saksi bisu ceritaku. Tempat PW untuk sekedar duduk-duduk sambil melihat kegiatan di lapvol, atau tempat rapat paling strategis. Pun dengan lingkaran-lingkaran mentoring. Juga tempat untuk sekedar berteduh kala hujan turun. Memori itu kembali teringat, kehebohan teman-teman sie pendaftaran TUC 2009 yang diserbu pendaftar, lembur dekorasi HUT 52–yang baliho dipasang sendiri, atau pertemuan anak-anak paskibraka. Semua di lantai merah ini. Aku tersenyum kecil, di sini pula aku sering berpapasan dengannya.

Kulanjutkan nostalgiaku dengan masuk ke lobby. Terhampar ratusan piala di dalam lemari kaca, terjejer rapi membentuk ruang lobby. Kulihat di sudut di sebelah kananku–masih sama–terderet rapi nama-nama yang berprestasi internasional. Saat aku lulus nanti–aku yakin sekali–deretan nama ini akan terus bertambah. Orang-orang hebat, batinku. Kualihkan pandanganku ke arah sofa-sofa di lobby. Aku berjalan mendekat. Tanpa sadar, aku mengelus sandaran kursi sambil tersenyum kecil. Masih tetap berdiri–lagi, kenangan itu muncul perlahan–satu per satu..

Ya, lobby. Lobby menjadi tempat favorit untuk wifi-an–berinternet gratis. Itupun yang dirasakan olehku, pun teman-temanku. Tak jarang, segelintir siswa masih terpaku di depan laptopnya sampai maghrib datang–aku masih kelas 10 saat itu. Atau rapat-rapat yang berlokasi di lobby–yang selalu memakan space lebih besar dan membuat sofa-sofa dijauhkan demi duduk lesehan yang nyaman. Lobby inilah yang sering menjadi saksi bisu kami–perjalanan kami. Aku teringat kala aku hectic dengan tumpukan surat bersama kedua kawan seperjuanganku–dimana deadline telah menunggu, bolos kelas, pontang-panting cari tanda tangan-cap. Itu kelas 1 SMA. Tak berbeda jauh dengan kelas 2 SMA, yang masih tetap sama–berkutat dengan tumpukan surat–bedanya, bukan lagi cari tanda tangan tapi dicari dimintai cap. Haha.

Aku tersenyum, mengingat sebutan untukku, ‘Tukang Cap’ dan ‘Sekre Sejati’. Sebutan yang muncul di tahun keduaku di sekolah ini. Sambil duduk di sofa favoritku, aku memandang tiap sudut lobby sambil menerawang, mencoba memutar ulang memori-memori 3 tahun ini. Ah, mendadak aku tersenyum kecut, teringat kejadian lampau itu. Di sini, aku pernah menangis, kala seorang mbak bertanya padaku,

“Kamu kenapa? Kok kayaknya murung gitu e?,”

dan aku seketika itu terduduk di lantai di depannya, menangis, sederas-derasnya, benar-benar sampai habis. Ya, konflik paling rumit, tak mudah terselesaikan, apalagi kalau bukan tentang hati. Tapi tak hanya itu, di sini pula persoalan sering bermula, entah dari obrolan atau memang mau dituntaskan.

Lalu, terlintas tahun pertamaku, saat beberapa kakak kelasku meminjam laptop, yang seenak jidat online Y!M dengan usernameku–yang memang otomatis connect–dan menyapa seorang temannya, berpura sebagai aku. Parahnya, mereka mengolok dan berkata seenaknya, padahal mereka memakai namaku! Hebohlah lobby dengan teriakanku dan suara gedebukan kaki mereka melarikan diri–pergi. Hahaha, itu benar-benar kejadian ter-ter-ter-konyol. Sial, mereka sukses mengerjaiku.

Lagi-lagi masih dengan gerombolan mereka, aku di sms oleh seorang diantaranya, dan diminta datang ke lobby. Pikirku kala itu, aneh, ada apa ini. Dan tepat ketika aku masuk lobby dari arah lapvol, mereka sedang duduk memenuhi lobby dan menatapku, seketika itu juga aku berkata,

“Semacam mencurigakan.”

Tepat setelah aku berkata seperti itu, mereka tertawa terbahak-bahak. Aku bingung, kenapa mereka tertawa. Aku bertanya,

“Weh weh apa e? Kok malah pada ketawa? Tak pergi wae nek gitu.”

Salah seorang dari mereka menjawab,

“Hahaha ora, mau ki si X sakdurunge kowe teko, nebak nek kowe pas teko bakal ngomong ‘semacam mencurigakan’, eh bener jebule. Hahaha.”

Dan mereka terus tertawa, aku hanya bisa merengut dan duduk di salah satu sofa.

Hahahaha, kali ini aku tertawa mengingatnya. Benar-benar lucu. Tahun pertamaku. Ya, juga tahun pertama kami bertemu. Sahabat-sahabatku. Di lobby ini pun, kami sering menghabiskan waktu. Menunggu malam dan memberi kejutan pada yang ulangtahun. Browsing sampai larut, makan malam bersama, atau sekedar berbagi cerita. Tahun kedua, di lobby inilah tempatku bertemu orang-orang asing dari berbagai universitas, meminta konfirmasi lomba atau promosi acara.  Di tempat ini, para tamu dari Malaysia, Sumatera sampai Sulawesi berkumpul. Ah ya, tempat ini juga tempat favorit para k-pop, j-dorama dan teman-temannya, untuk bertransaksi. Apalagi kalau bukan transaksi dorama, k-drama, video clip, dan sejenisnya. Berbekal laptop dan harddisk external. Benar-benar virus korea merajalela.

Hm, di sini, terlalu banyak cerita. Sungguh banyak. Kuhembuskan nafas pelan-pelan, dan beranjak dari duduk. Menuju sebuah ruang tempat para pahlawan tanpa tanda jasa. Ya, ruang guru. Aku memutuskan untuk tak masuk ke dalam. Hanya kuamati setiap sudutnya–benar-benar tiap sudutnya–dan mataku berhenti pada sebuah meja kokoh tak jauh dari pintu. Meja Super-Dad kami. Meja yang selalu penuh dengan surat-arsip dan selalu tak pernah sepi pengunjung. Ah, aku merindukan beliau duduk disitu dan memanggil,

“Kene Ta, ono surat akeh ki. Wingi kok ora nemoni aku?”

Ucapan favorit beliau saat aku tak mengambil surat dalam 2 hari berturut-turut. Bapak paling peduli pada siswa-siswinya. Ah, masa itu..

Kubalikkan badan, meneruskan perjalanan. Baru dua-tiga langkah, kutengok ke belakang, menatap ruang guru beserta foto-foto kepala sekolah yang terjajar rapi,

“Terimakasih. Terimakasih telah membangun sekolah seperti ini dan hingga begini. Terimakasih,” ucapku dalam hati.

Kususuri lorong lantai 1. Melewati tempat piket–dimana dulu sering kukunjungi saat terlambat, ruang kepala sekolah–yang kerap kudatangi untuk meminta tanda tangan, ruang tata usaha, papan pengumuman–tempat semua hal ditempel bahkan nilai berbobot 3 pernah terpampang di sini, dan aku berhenti di depan ruang sidang kecil–seberang ruang 106. Di ruang ini, pertama kali keluarga kecilku dipertemukan. Keluarga kecil, ber-enambelas orang. Pengurus Harian OSIS Bhinneka Teladan Bhakti 2009/2010. Ruang sidang kecil inilah yang menjadi saksi awal mula perjuangan kami. Ya, perjuangan. Aku menerawang jauh, setahun sebelumnya, ruang ini menjadi brankas panitia inti TUC 2009. Tempat menyimpan fasilitas, soal dan barang-barang lainnya untuk hari H. Tempat paling heboh saat hari-H TUC 2009. Peserta mbludak, fasilitas kurang, panitia pontang-panting, namun semua terbayar. Ya, TUC kami, Coloring Your Mind. Tersenyum-senyum aku mengingatnya.

Kulihat sekitar, ternyata masih sepi. Dan kuputuskan untuk menapak langkah ke lantai berikutnya..

***

Tunggu Part 2 ya. Insya Allah ku post sebelum hari wisuda. Semoga nanti sempat. ^^

Mencoba benar-benar menuliskannya, sedetail-detailnya. Namun, apa daya tak banyak yang tertangkap otak. Berikutnya, kucoba mencangkup semua. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Teladan, Tempat Berjuta Kisah Bermula #Part1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s