Keep Holding On!

Ini sudah memasuki semester satu akhir di dunia perkuliahan. Ah ya, kuliah. Mungkin belum kubagi kisah ini denganmu. Well, I will begin my story then..

It was a tough time back then. Aku harus mengejar materi yang–sayangnya, sulit bagiku untuk menguasai. Detik-detik menjelang UAN SMA mulai merayap menghantuiku. Sungguh, tidak bisa kupungkiri aku khawatir. Khawatir kalau nilaiku tak memenuhi standard. Apalagi pada 1-2 subject yang aku sangat lemah. Dan.. UAN pun datang–memang, tiba-tiba dia tiba. Kupaksa otakku untuk mengingat rumusScience itu. Antara yakin dan khawatir. Truly depressed. Ketika UAN selesai, sedikitpun, senomorpun tidak mau kuingat–apalagi dibahas. Seriously, langsung kututup semua buku Science, kutumpuk jadi satu, kutaruh dipojok kamar. Aku pasrah, aku berserah diri padaNya, untuk hasil UAN. Perang baru saja dimulai, batinku saat itu. Pertarungan sebenar-benar pertarungan. Bertarung melawan diri sendiri dan orang lain. Ya, SNMPTN tertulis.

Aku memang nggak ikut undangan. Nilaiku tak seberapa. Aku memilih untuk bertarung dengan diriku sendiri–mengalahkan ketakutan sendiri. SNMPTN tulis. Entah aku yang kelewat nekat, atau sok menguasai, aku mengambil IPS murni–bukan IPC. Padahal jelas-jelas background ku Science dan terakhir kali ada pelajaran Social itu.. kelas 10!  Yang jelas, aku mantap dengan pilihan Social itu. Jujur, tidak ada jurusan yang menarik–yang ingin kumasuki di bidang Science. Apalagi memikirkan para “cacing” integral atau tumpukan hafalan organ, oh no, it’s better for me to take social then.

Habis-habisan berusaha menyamai kemampuan mereka–yang sudah punya background social. Intensif les pun aku masuk kelas Social. Tambahan-tambahan diluar jam sekolah pun kujabanin. Buku-buku Social menggunung, soal-soal berjibun. Waktu semakin mendekat. Dan tibalah dimana aku harus mendaftarkan diri, online. Aku online dirumah sahabat gembulku si Hanan Ashrafi Noviandari, melewati beberapa tahap dan sempat eror. Panic time! Haha. Untungnya bisa diulangi. Fiuh. Sampailah pada page pilihan dan aku memilih :

Pilihan pertama : Psikologi Universitas Gajah Mada

Pilihan kedua : Sastra Inggris Universitas Gajah Mada

Ya, aku memang ingin menjadi seorang psikolog. Bukan apa-apa. Bukan profesinya yang kukejar. Tapi kontribusinya. Alasanku? Menjadi psikolog itu menjadi pendengar yang baik, menjadi seperti konsultan, orang mempercayaimu dengan membagi masalahnya denganmu, kau membantu orang lain melalui kata-katamu dan mendengarkan serta memberi masukan adalah favoritku. Aku selalu suka menganalisis masalah, memberi masukan dari berbagai sudut, dan mendengarkan orang lain. Rasanya dipercaya orang lain untuk dijadikan tempat cerita itu.. luar biasa. Ada rasa hangat tercipta. Di sisi lain, menjadi seorang psikolog itu adalah suatu bentuk nyata, untukku, dalam mewujudkan cita-citaku: bermanfaat untuk orang lain. Itu saja, tidak kurang tidak lebih. Dan tekadku masuk psikologi semakin kuat, seiring dengan besarnya dukungan dari sekililingku. Aku tau, itu sama sekali tak mudah. Tak ada yang mudah.

Lalu, pilihan keduaku, Sastra Inggris. Kenapa? Aku tak tau. Jujur, aku sama sekali tak memikirkan pilihan kedua. Tak ada yang membuatku sreg. Sampai akhirnya, aku konsultasi dan Bu Milir menyarankan untuk menaruh Sastra Inggris sebagai pilihan kedua. Memang, aku sangat suka bahasa Inggris, tapi sastra? So-so. Saat itu aku sedang asik bergelut dengan hal-hal berbau jejepangan, dan sempat kutanyakan pada bapak, kalau-kalau boleh memilih Sastra Jepang di pilihan kedua, tapi beliau bilang, “Sastra Inggris ajalah, yang umum.” Terpilihlah Sastra Inggris di pilihan kedua, dengan tanpa bayangan apapun untuk berada di dalamnya, sama sekali tak ada bayangan.

Yak, dengan mantap kuselesaikan daftar online itu. Thousand thanks to Hanan for accompanying me back then.

Waktu pun bergulir dengan cepat. Sangat cepat. Hingga aku sudah tiba di pengumuman kelulusan. Malamnya, memandangi layar laptop, online, sambil berdoa semoga tidak ada guru yang ‘iseng’ berkunjung ke rumah. HP pun standby, kalau-kalau ada kabar mengenai esok. Desperately worried. I knew, I did not do my best in Physic because of–well, the night before, I was in the moment to help my friend translating a bunch of research papers for her research in Moskow, Russia. I just hope I would have more than 7–I didn’t expect much for the result. And TADAAA! All of the students were success and passed the UAN. We all passed. I felt so happy but disappointed too. I got the worst mark ever in my life. I won’t write those marks here, but it was desperately bad. Still, I was so grateful that I could pass it. The result made me down for a while, however, I could stand with it and move on. Masih tersisa satu perang lagi, SNMPTN tulis.

Tryout-tryout sering kuikuti. Dari ranking paling atas sampai hampir bawah pernah kurasakan. Nongkrong di perpus, nangkring di bimbel, tanya-tanya para ahli, semua kuusahakan, semaksimalnya. Hingga akhirnya, tibalah hari perjuangan dimulai. Yak, tempatku tes SNMPTN tulis di UNY Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro. Sendirian. Jelas, aku termasuk pendaftar awal, padahal teman-temanku kebanyakan daftar di akhir. Ya sudah, tak apa-apa. Ah ya, SNMPTN dibagi menjadi dua hari; yang pertama untuk kemampuan dasar dan berikutnya kemampuan IPS. If I could get your permission, I would make this shorter, may I?

Then, I’ve done everything. I felt great for the basic subjects, but I felt I would get worse for the social subjects. I just hoped that I could passed the exams. The announcement day came.. I felt nervous, seriously, deathly nervous. Hari itu beredar gosip pengumuman maju jam 19:00, panik. Jelas. Pakdhe dari Tegal yang lagi di rumah pun berencana akan pulang setelah pengumuman–menunggu kabar bahagia dariku, kata beliau.

Detik-detik pengumuman semakin merapat. Tepat pukul 19:00, website pengumuman malah sama sekali tak bisa kuakses. Batinku, Ya Allah nggak papa pilihan kedua, yang penting keterima, bikin ibu seneng, tolong ya Rabb. Dan.. akhirnya sekitar pukul 19:30..

SELAMAT! ANDA DITERIMA DI PILIHAN DUA JURUSAN SASTRA INGGRIS UGM! 

Detik itu juga, kupeluk ibu yang sedari tadi duduk di sampingku. Tak henti mengucap syukur, sambil meneteskan airmata bahagia. Alhamdulillah..

Sesak? Tentu saja. Terlempar ke pilihan kedua, siapa yang tidak merasa sakit? Tapi disinilah kita diuji. Terus bersyukur dan ikhlas menerima hasil. Dan.. betapa lebih bersyukurnya lagi memiliki ibu yang begitu pengertian. Beliau berkata, “Alhamdulillah, disyukuri mbak. Diambil dulu, besok kalo memang nggak betah, tahun depan ikut lagi gapapa yang penting kamu seneng, sreg.” Kalimat yang benar-benar ingin kudengar dimana keadaan sedang diantara bahagia dan sedih. Segera saja kucari tau kabar sahabat-sahabatku. Allahuakbar! Banyak kabar gembira yang terdengar.

Orang pertama yang kuhubungi adalah Hanan. I called her, and I got a fact that she had already known before I told her. Because she has my exam card which was in her computer. I almost cried. Kubuat seolah aku sudah lega akan semua ini.

Sampai akhirnya.. Kuliah pun tiba. Ya, masih ada sesak yang tersisa. Tapi kusadari satu hal : Allah tak pernah memberi hal buruk pada hamba-Nya. Dia selalu tau yang terbaik untuk hamba-Nya. Mimpi itu masih ada. Masih menggantung jelas di pelupuk mata. Mimpi itu akan tetap ada. Hanya, sementara, ditunda. Allah memberiku Sastra Inggris, untukku memoles lebih dan lebih bahasa Inggrisku, yakinku. Mungkin, di Sastra Inggris inilah aku bisa berkarya, berkontribusi lebih daripada bila aku di Psikologi. Meski mimpi tak mampu teraih, selalu ada jalan, masih ada jalan. Allah tak pernah mengecewakan, yang ada kita yang mengecewakan-Nya.. :’)

Sampai detik ini.. aku bersyukur. Sangat bersyukur. Berada di Sastra Inggris. Memang, pilihan dua. Memang, unpredictable. Tapi, inilah yang terbaik. Terbaik untukku, untuk hidupku, untuk masa depanku. Terbaik dari-Nya. Life mapping ku, berubah. Total. Membuat lagi struktur hidup dari awal. Bahwasanya plan B tak selalu buruk. Dari sini, tak ada yang bisa menduga, siapa tau aku bisa menjadi traveler sekaligus writer. Atau translator. Semua punya jatahnya. Allah sedang menuntunku pada cita-cita yang terbaik. Dunia dan akhirat. Mimpiku tak berakhir di sini. Buktinya, kutemukan berlian-berlian indah dalam ukhuwah hebat di sini, Sastra Inggris UGM 2011, my beloved classmates Enlighten. ^^

Keep Holding On!  😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s