Kadang-Kadang

10-actions-happiness

Kadang-kadang aku tersenyum atau bahkan tertawa diam-diam, ketika mengingatmu. Tentu saja, sendirian. Orang lain mungkin akan menganggapku aneh. Namun, aku tak peduli. Karena seringkali, hanya mengingatmu–bahkan namamu–ujung bibirku tertarik dan segera membentuk senyum.

Kadang-kadang aku mengingatmu saat menatap langit–tak peduli cerah ataupun mendung. Tentu saja, sendirian. Orang lain mungkin berpikir aku sedang tak baik-baik saja. Padahal, belum tentu. Karena aku selalu mengingatmu diantara kisah-kisah bahagia kita–tanpa menghiraukan kisah-kisah tak menyenangkan kita, jelasnya.

Kadang-kadang aku ber-monolog dalam batinku, ketika tiba-tiba banyak hal yang ingin kubagi denganmu. Tentu saja, sendirian. Orang lain mungkin mengira aku tak banyak bicara. Mereka salah besar. Karena aku lah yang paling cerewet ketika bercerita tentang hidup kepadamu–dimana kau selalu tau segalanya; hampir seluruhnya.

Semua kadang-kadang yang terjadi ini bertuju kepadamu; tentangmu; denganmu.

Kau tanya kenapa aku memakai kata kadang-kadang bukan seringkali atau malah selalu saja? Jawabannya sederhana : waktuku habis bersamamu, maka aku tak cukup punya banyak kesempatan untuk mengingatmu. Sedangkan, bagaimana aku mau mengingatmu kalau kita sering bersama? Jelas saja aku pasti tak akan lupa–dan tentunya tak perlu susah-susah mengingat, kan?

Ya, karena hanya kadang-kadang kita tak bertemu, berbagi dan bersama. Meski dalam tiap kadang-kadang itu aku tak pernah tak merindukanmu. Hahaha. Biarlah kadang-kadang itu tetap begitu. Agar selalu ada rindu dan kenangan terangkum dalam hatiku, pun dirimu. Bukankah dalam kadang-kadang itulah kita tau bahwa masing-masing memiliki tempat di sudut hati?

2459399721_6b244d1c0f_z

Dan.. Kadang-kadang, aku me-recall kembali perbincangan kita tiap kali kita duduk berdua–entah benar-benar berdua atau di tengah kerumunan teman-teman kita. Kenapa? Karena selalu saja ada hal-hal yang patut untuk diingat dan dikenang. Pun, karena perbincangan kita berdua tak pernah membosankan. Percaya atau tidak, memang sesederhana itu.

Singkatnya, tetaplah menjadi ‘kadang-kadang’ dalam fikirku dan ‘selalu saja’ dalam hidupku. Karena hadirmu tak pernah membuatku tak bahagia. Dan.. ‘selalu’ ku juga hanya tertuju padamu, ya, lewat doa-doa yang tak pernah putus. Sudah pernah kubilang kan, dalam bahagiaku selalu ada dirimu dan dalam doaku selalu ada namamu. πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s