Kemana Pagi?

SONY DSC

Sejauh aku memandang,

Sejauh aku berjalan,

Aku tak melihatmu.

Aku mencari, dan terus mencarimu–yang entah sedang hilang kemana. Aku terus saja berjalan mencarimu, tanpa pernah tau harus kemana dan ada dimana kamu. Kemana kamu pergi, Pagi?

Aku kini sedang berjalan sendirian, mencari-cari sosokmu–sosokmu yang biasanya–tapi tak kutemukan. Kini, aku pun berjalan menyusuri kisah-kisah kita yang lalu, barangkali kamu berkunjung sewaktu-waktu, sepertiku saat ini–yang sedang mencarimu. Namun, lagi-lagi tak kutemukan sosokmu itu. Aku bahkan mencoba merapikan lagi kebodohan-kebodohan kita waktu itu, siapa tau kamu sedang berusaha bercermin dari masalah lalu. Sayangnya, kamu pun tak bisa kutemukan di sana. Aku harus mencarimu kemana lagi, Pagi?

Aku ingin memanggil namamu. Bahkan aku ingin meneriakkan namamu. Agar kamu bisa mendengarku–aku yang tertatih-tatih mencarimu di berbagai tempat–dengan jelas. Tapi lagi-lagi aku tak bisa. Aku tak bisa bersuara, bahkan untuk sekedar menyuarakan namamu. Katanya, janji baru itu pasti, seperti halnya pagi yang pasti datang. Itu katanya, entah siapa, aku lupa. Pagi memang selalu datang, tapi Pagi-ku, bahkan tak lagi ada meski bersama janji pasti itu. Kemana kamu? Tak lagi terjangkau, meski hanya sekelebat mata.

Haruskah aku tetap berusaha mencarimu, Pagi? Mengais jejak-jejak yang mungkin kamu tinggalkan. Mencoba terus mencari sosokmu itu. Haruskah? Ah, Pagi… kamu tau, saat aku menuliskan ini, aku sedang tak tentu arah. Hatiku tak lagi tenang, bahkan sakit pun tidak. Hampa. Aku sedang berada di titik lemahku, tak merasakan apapun. Aku ingin berusaha sekali lagi, namun aku tak tau harus bagaimana. Aku ingin menyerah, tapi aku tak mampu melihatmu berjalan di sana sendiri. Aku ingin melindungimu, namun aku takut aku tak mampu. Ah, Pagi… aku ini mungkin terlalu mencintaimu. Mencintai janji pasti pagi, yang pasti selalu datang dan memberi harapan seluruh makhluk hidup, pun bau pagi yang selalu hangat, ya… sepertimu.

Mungkin hal pertama yang akan kuucap ketika bertemu denganmu lagi–kalau aku bisa bertemu dengan kamu yang biasanya–adalah:

Kemana saja kamu, Pagi? Apakah kamu baik-baik saja?

Hanya itu. Karena mencintaimu adalah hal yang tak bisa kutebak. Karena aku tak pernah memilihmu. Skenario Tuhan yang membuat kita bertemu. Dan.. aku percaya, apapun akhir kisah kita nanti, aku tak akan menyesali untuk mencintaimu. Karena pagi selalu membawa janji baru.. untukku, untukmu, untuk kita. :’)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s