Memori

Postingan ini untuk mengikuti Giveaway #ResiduNamarappuccino
 morning_tea__by_kyrateppelin-d46jihd

***

Tahun pertama.

Aku mengenalmu dengan cara yang tak terduga. Pertama, aku bertemu denganmu beberapa tahun yang lalu di tempat yang jauh dari kata romantis, meski cukup unforgettable: di taman depan gerbang sekolah. Waktu itu, aku sedang duduk menanti ayahku datang menjemput, sedangkan kamu duduk di taman menanti bus. Saat itu hanya tinggal kita berdua. Sekolah sudah sepi, gerbang sekolah sudah dikunci, dan senja mulai menepi. Kamu sempat menengok ke arahku duduk, mungkin kamu penasaran siapa gadis yang belum juga pulang ketika petang datang. Dari sisiku, kamu terlihat begitu dewasa dan berkharisma. Mataku tak bisa lepas dari menatap punggungmu dan sisi wajahmu. Entah, mungkin karena kacamata yang membingkai wajahmu itu begitu pas. Atau, I was just simply.. falling in love with you in the first sight.

Tahun kedua.

Aku tak mengira kalau sketsa punggungmu sore itu masih tertinggal di pikiran dan benakku, ketika aku mendadak teringat sosokmu. Padahal kamu sudah tidak bisa lagi kutemui seperti sore itu. Kamu sudah tidak berseragam sama denganku. Ya, sejak saat itu aku ingat, kamu adalah seniorku. Untuk pertama dalam hidupku, aku merindukan sosokmu yang menunggu bus datang di taman depan sekolah. I missed a person whom his presence was not around. Aku merindukanmu tanpa ada sosokmu disekitarku. Aneh. Tapi, apa itu yang disebut jatuh cinta? Atau aku hanya kagum? Entahlah. Meski begitu, aku mencoba mencari tahu kabarmu lewat orang yang tentunya tak terduga. Kusebut dia sebagai miss cupid kita. Ya, aku diam-diam memendam penasaranku tentangmu. Aku ingin mengenalmu.

Tahun ketiga.

Aku tak tahu apakah takdir yang mempertemukan kita, atau doa-doaku yang membuat kita saling mengenal? Akhirnya, aku dan kamu telah saling mengenal. Prosesnya? Jangan ditanya. Biar jadi rahasiaku dan kamu saja. Walaupun aku dan kamu telah saling mengenal, pertemuan kita hanya hitungan jari. Aku ingat, pertemuan pertama kita. Waktu itu, kamu sedang menghadiri acara besar mewakili sekolahmu. Aku, yang tidak tahu akan bertemu denganmu, datang untuk menyaksikan acara itu juga. Saat aku sedang menunggu acara dimulai, disitulah kamu datang tepat ke arahku. Aku tak menyadari sampai kamu cukup dekat dari jarak pandangku. Masih dengan bingkai kacamata yang sama. Masih dengan kharisma yang sama. Masih dengan wajah yang dewasa yang sama. Well, meski harus kuakui, kamu bertambah hmm.. tampan. Lalu, kamu menyapaku. Gawat, hatiku menjerit-jerit, batinku. Aku gelagapan menanggapi sapaanmu. Aku terpesona. Lagi.

Tahun keempat.

Aku ‘terjebak’ di tempat yang sama denganmu. Di lingkungan dimana kamu menjadi center-nya. Yah, kita memang telah saling mengenal. Dekat, meski tidak bisa dibilang sangat dekat. Di tempat itu, aku menyadari satu hal: kamu adalah idola semua wanita. Aku melihat sosokmu yang tidak aku ketahui. Kamu yang sangat bijaksana dalam memimpin. Kamu yang sangat tegas dalam bertindak. Kamu yang sangat… dikagumi semua orang. Well, kamu memang mengenalkanku dengan lingkunganku yang baru ini. Aku nyaman. Tapi, aku takut. Aku takut kalau kamu akan sulit untuk kudekati. Hei, penggemarmu begitu banyak kamu tahu? Saat aku bilang kalau kamu punya banyak penggemar, kamu bilang, “Ah, itu hanya perasaanmu saja. Aku ini laki-laki biasa.” Bodoh! Justru sifat merendahmu itu yang membuat wanita-wanita di sekelilingmu terpesona. Ah, semoga kamu tidak jatuh cinta dengan salah satunya. Semoga saja.

Tahun kelima.

Aku salah besar. Justru badai datang dari temanku. Aku menjalin pertemanan dengan seorang lelaki. Kamu pun mengenalnya dekat, sama dekatnya sepertiku. Meski sejujurnya, aku cukup was-was untuk menjalin pertemanan dengan lawan jenis. Bukan apa-apa, aku hanya takut salah satu akan jatuh cinta dengan lainnya, walau sudah kupastikan, aku tidak akan memiliki perasaan pada temanku itu. Yah, tapi tidak akan ada yang tahu tentang perasaan bukan? Suatu hari, temanku meminta bertemu, katanya ada hal yang ingin dia sampaikan tentangmu. Memang, kala itu, kedekatanku dan kamu sedang tidak berada di titik biasanya. Dia, temanku dan temanmu itu, menyampaikan pesan yang paling tidak ingin kudengar. Dia memberitahuku, “Hei, kamu tahu, lelakimu itu.. memiliki seseorangnya. Yang bukan kamu. Seseorang itu, wanita yang beberapa bulan lalu datang ke sini.” DEG! Rasanya, aku mendadak tuli. Rasanya, aku mendadak bisu. Rasanya, aku mendadak tak bisa bernafas. Setelah beberapa lama aku mengumpulkan suaraku, lalu aku bertanya, “Wanita yang sekarang menjadi kawan dekatku?” Dia menjawab ‘ya’ dengan tanpa memandangku. Aku ngilu. Hatiku pedih. Aku hancur oleh kenyataan bahwa kamu mencintai perempuan lain, meski kita sedekat ini. Aku jatuh.

Tahun keenam.

Aku masih terngiang-ngiang dengan kenyataan bahwa kamu mencintai perempuan lain. Aku bertanya-tanya, apakah arti kedekatan kita selama ini? Aku cukup tahu, kamu bukan lelaki yang akan mendekati dua wanita sekaligus. Apakah wanita itu adalah cinta dalam diam-mu? Aku lelah bertanya-tanya. Aku dan kamu mulai renggang. Tidak ada lagi pesan-pesan singkat yang menyenangkan. Tidak ada lagi diskusi-diskusi berat via chatting. Tidak ada lagi pertemuan-pertemuan kita. Dan, teman kita itu, masih setia bersamaku meski tahu aku dan kamu tak sedekat dulu. Sampai suatu hari, aku mengetahui bahwa teman kita itu menyimpan perasaan padaku. Unluckily, aku baru saja membaca status di media sosialmu yang mengatakan bahwa kamu sengaja menjauh dariku karena ada teman kita itu. Tersirat dan singkat, namun aku bisa menangkap kalau pesan itu untukku. Kita bertengkar untuk pertama kalinya. Kamu bilang, kamu sudah tahu tentang segala perasaanku. Aku bilang, aku sudah tidak punya perasaan lagi untukmu, itu masa lalu, kamu terlambat menyadarinya. Kamu pun berkata, “Maaf, aku sudah mengungkit masa lalumu. Semoga kamu mengerti.” Kamu bodoh atau apa? Siapapun tahu, kalau aku bohong! Lagipula, kamu merelakanku untuk teman kita? Kamu kira, perasaanku ini bisa mudah berpindah? Kamu ceroboh. Aku kehilangan.

Tahun ketujuh.

Aku telah mengetahui semuanya. Teman kita mengakui, kalau dia yang memberitahumu tentang perasaanku. Dia juga yang memintamu untuk menjauhiku karena dia menyukaiku. Dia bilang, kamu yang tidak mau memperjuangkan. Tapi, aku sudah menolaknya. Aku bilang kalau dia bukan lagi temanku. Betapa dia begitu egois membuat aku dan kamu jauh. Lalu, aku mulai menata hidupku lagi. Aku memutuskan untuk jatuh cinta lagi. I moved on. Kamu? Kamu entah sekarang berada dimana. Aku bahkan tak pernah tahu kabarmu lagi. Sampai sebuah kabar tentangmu mengusikku kembali. Dari seorang karib kita, dia bilang kamu dan teman kita itu pernah bertemu membicarakanku. Karib kita bilang, kamu sengaja mundur untuk teman kita itu dan well, sebenarnya, we had a mutual feeling. AH! Hatiku kacau. Setelah aku mencoba untuk menata kembali hatiku, aku mendengar ini. Setelah ada seseorang lain yang kehadirannya mulai kuterima. Setelah dua tahun aku memutuskan ‘berkemas’. I was speechless. Aku tak tahu bagaimana bisa meraihmu lagi.

Tahun kedelapan.

Hei, apa kabar? Sibuk ya?’

‘Bisa kita bertemu?’

Entah sudah berapa lama aku tak mendengar kabarmu, sampai pesan-pesan singkatmu itu datang di inbox-ku. Semenjak aku tahu tentang perasaanmu, aku berusaha tetap menjalani hari seperti sebelumnya, seolah kamu tidak mengusikku lagi. Aku menemui. Aku berhadapan lagi denganmu. Aku mencoba terlihat baik-baik saja. Sampai..

Ini.. aku ingin menyerahkan undangan ini. Aku ingin menyerahkan langsung padamu. Acara minggu depan. Kuharap kamu bersedia datang,’

katamu. Aku terdiam. Lalu, aku memberanikan diri bertanya padamu, ‘Hei, apa pernah, sedikit saja, walau hanya sebentar saja, kamu memiliki perasaan yang sama padaku?’ Kamu tersentak, lalu tatapanmu berubah sayu. Sambil menatap mataku, kamu berkata, ‘Ya, aku pernah mencintaimu seperti kamu pernah mencintaiku. Tapi, kuharap kamu mengerti. Kita mungkin tidak ditakdirkan bersama. Kuharap kamu segera menemukan seseorangmu.’ Kamu pun menepuk puncak kepalaku, dan berlalu. Aku terdiam. Kosong. Aku tak tahu apa yang lebih menyakitkan daripada mengetahui ada seseorang yang mencintaimu tapi memilih untuk bersama orang lain. Aku tahu, aku dan kamu terlambat. Tepatnya, aku. Aku terlambat menyadari kalau kamu hanya berdusta tentang wanita lain itu. Aku terlambat menyadari kalau sebenarnya kamu hanya ingin aku mengatakan sejujurnya ketika kita bertengkar kala itu. Aku terlambat menyadari kalau.. kamu mencintaiku.

Tahun demi tahun berlalu.

Aku masih sering memandang kosong sekelilingku ketika sendiri. Sampai seorang temanku di kuliah menyuruhku membuka blog Namarappuccino. Dia bilang, siapa tahu aku butuh kutipan-kutipan yang cocok dengan keadaanku dan aku bisa cepat move on. Dan ternyata dia benar. Aku menuliskan quote ini di diary-ku: Dua orang yang saling menjauhi, tapi belum juga bisa berhenti saling mencintai. Singkat, namun penuh paradoks. Simpel, tapi ironis. Apalagi isi dari Her ‘What If’, benar-benar menggambarkan kisahku ini. Kisah yang aku sendiri ragu, apakah bisa dikatakan menyenangkan atau menyedihkan. Ya, bagaimana aku membayangkan ‘what if I just confessed to him? what if I….’ mungkin kisah ini (kuharap) berakhir berbeda. Kisah apapun ini, aku akan menyimpannya dan menyimpan segala tentangmu menjadi sebuah memori. Memori Sewindu*-ku. Memori Almost is Never Enough**-ku. Kamu, terima kasih telah menjadi memori hidupku yang berharga.

***

Cerita ini semi-fiksi.

Illustrations from:
*Sewindu – Tulus
** Almost is Never Enough – Ariana Grande
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s