Menjumpai Pagi Tanpa (-ku)

Pernah suatu hari aku teringat tentang Pagi favoritku. Pagi favorit yang sudah tak kujumpai lagi. Pagi favorit yang sudah tak lagi berada di deretan hal-hal terfavoritku.

***
Apa kabar, Pagi? Sudah lama kita tak saling menyapa. Mendung selalu membatasi kita untuk sekedar bertukar sapa. Ada jarak yang tercipta diantara kita sejak saat itu, ya. Aku mendadak teringat tentang kisah kita. Kisah yang tak pernah kusesali adanya. Kisah yang mengajariku bahwa pagi akan selalu datang, meski pagi itu bukan lagi kamu.

Pernahkah kamu merasa ingin menarik semua benang-benang kusut kita, lalu menciptakan cerita-cerita yang mungkin saja berakhir lebih bahagia?
Suatu hari di penghujung malam, aku pernah melakukannya.

Aku membayangkan saat ini kita sedang saling menguatkan. Dalam kasus ini, kamu selalu menjadi janji tentang Pagi yang pasti akan datang. Sedangkan aku menjadi aku yang selalu memberimu harapan bahwa esok pasti selalu lebih baik dari sekarang. Mungkin saat ini kita sedang berebut soal argumen siapa yang paling benar, tentang buku-buku favorit kita atau film-film yang baru kita tonton kemarin sore. Membicarakan hal-hal sepele macam ini.

Kalo buku ini dibikin film, pasti seru banget ya
‘Aku justru takut filmnya tak sememuaskan bukunya.’
Kan kamu sendiri yang bilang, kalo memang tidak ada film yang bisa sama persis dengan bukunya. Lupa?
Are you mocking me, Pagi? I do remember. Tapi tetep aja kan kecewanya pasti ada.’
Hahaha. Kecewa itu pasti. Namanya juga manusia, ga pernah puas kan? Bersyukur aja.

Atau kita malah membahas akhir sebuah buku yang kita rasa kurang, seperti ini.

Akhirnya kurang deh
‘Agak nggantung ga sih?’
Ho oh, kenapa ga langsung diakhiri sih
‘Pagi, mana ada ceritanya di buku langsung tiba-tiba diakhiri. Kalo semua ikut readers, kelar dong kerjaan penulis.’
Oh ya bener juga. Semuanya emang butuh proses. Harus jadi pembaca yang sabar nih.

Kebiasaan-kebiasaan kecil kita, kurasa. Ah, mungkin saat ini kita juga saling mengisi satu sama lain dengan kekhawatiran tentang keberadaan masing-masing. Tentang bagaimana kamu selalu memarahiku soal makan tepat waktu dan istirahat yang cukup. Tentang kamu yang selalu mendengarkan aku demi kalimat-‘kita udah sepakat kan, kalo kita cerita untuk berbagi beban‘-mu itu. Tentang aku yang selalu memaksamu untuk tidur lebih cepat dan mengurangi bermain game. Tentang aku yang selalu berusaha menjadi yang selalu diandalkan olehmu. Tentang kita yang saling percaya bahwa usaha yang ikhlas tak pernah mengkhianati.

Barangkali saat ini kita masih menjadi aku dan kamu lima tahun yang lalu. Kebiasaan-kebiasaan saling menelpon tiap subuh datang, atau malah soal kamu-ingin-makan-aku-yang-memasak, atau tentang pertemuan-pertemuan kita seolah obrolan panjang tak berhenti di dunia maya tak pernah cukup. Aku membayangkan bagaimana marahnya kamu kalau melihatku saat ini dengan kesibukan yang tak memungkinkan istirahat cukup, atau kalau kamu tau aku memilih tidak makan hanya karena aku tidak nafsu makan. Alamak, membayangkannya saja aku tersenyum. Aku selalu suka tiap kali kamu memarahiku, karena itu bentuk perdulimu kan? Seolah mentari Pagi menyengat terik. Hahaha. Yah, aku selalu berterimakasih pada kata-katamu, Pagi, yang hangat dan sederhana. Mungkin saja, kalau kita masih bersama kita akan lebih bahagia. Atau tidak. Toh, barangkali memang kita masih akan selalu mengingat meski tak lagi bersama, karena kita tak pernah benar-benar bertengkar bukan?

Tapi semua mungkin dan barangkali ini hanya terjadi di pikiranku saja. Aku sama sekali tak berharap ini terjadi. Aku memutuskan untuk tak memilikimu lagi, Pagi. Masaku untuk memberi sudah selesai dan I know you were taken me for granted. Meski begitu, segala andai-andai ini nyata, karena ketika memutarnya di kepala, aku masih tersenyum–bukan, bukan senyum sesal, karena aku tak pernah menyesalimu. Kalau mendung tak pernah menggelayutimu, mungkin kita berada di titik ini, masih bersama tanpa perlu takut saling meninggalkan. Walau bagaimanapun, kamu tak lagi jadi Pagi yang sama. Aku memang tak punya Pagi favorit lagi, tapi aku menemukan Matahari yang akan selalu melunasi janji Pagi, bahwa esok pasti datang tanpa terkecuali.

Semoga kamu segera menemukan seseorang yang akan menjadikanmu pagi favoritnya ya. Kuharap kamu sekarang bisa menentukan arah meski sendirian. Kuharap kamu tetap memberi banyak manfaat untuk sekelilingmu. Kuharap kamu bahagia seperti malam yang selalu bahagia menyambut Matahari pagi. Semoga tidak ada penyesalan diantara kita ya, karena aku tidak sedikitpun menyesalkan kepergianmu atau kebersamaan kita. Seperti katamu kan,

‘Hidup ini tentang keikhlasan. Ikhlas memberi. Ikhlas menerima.’

Mungkin, suatu saat nanti kita akan mengulang kebiasaan kita sebagai kawan lama yang menemukan persamaan-persamaan dalam percakapan. Mungkin saja, bukan?

***

Writer’s note:
Rasanya sudah lama tidak menulis tentang Pagi. Kali ini biar sedikit bernostalgia bahwa bahagia yang dulu juga bisa diganti dengan bahagia sekarang. Bahwa kebahagiaan bukan melulu soal seseorang, tapi soal momennya. Bahwa meski kembali ke masalalu bisa membuat kita lebih bahagia, tapi tidak ada yang bisa berjanji semua akan baik-baik saja. Jangan menyesali masa lalu, tapi berdamailah. Sekali waktu, bayangkan, maka kamu akan semakin bersyukur dengan hidupmu saat ini. Bersyukur dan berbahagialah, kalian! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s