Jauh

Kita tak pernah tau seberapa dekat jauh itu, atau seberapa jauh dekat itu. Kita tak pernah tau ukurannya. Apakah diukur dari lama kaki melangkah? Ataukah lama kereta melaju? Atau malah lama perahu dikayuh? Ah, rasanya tidak ada orang yang mampu menjawabnya.

Apakah jauh itu jarak satuan kilometer rumahku dan rumahmu? Kita masih berada di satu kota, masih dekat, katamu. Kubilang, tetap saja kenyataannya raga kita terbentang jarak ratusan kilometer sekarang. Tak peduli walau jarak rumah kita yang hanya sepelempar batu itu terhitung dekat.

Apakah jauh itu detik yang dihitung ketika kita hanya bisa menatap jendela didalam kereta? Kita masih terhubung dengan rel-rel yang menuju tempatmu berada, bersabarlah, hanya 28800 detik, katamu. Kubilang, berapa kali lagi aku harus menatap jam dinding, menghitung tiap detik yang terlewat sambil menunggumu datang? Meskipun detik, tak berarti jauh dapat digapai dalam sekali rengkuh.

Apakah jauh itu jarak keyakinan hatiku dan logikamu? Kita memakai hati dan logika yang sama, jangan buru-buru, yakinkan dulu hati dan logikamu agar kita bertemu di keyakinan yang sama, katamu. Kubilang, hatiku sudah berkata iya, berbisik sayang, dan merasa nyaman, tapi logikaku masih bertahan atas nama ‘takut kehilangan‘. Aku ini wanita, walau hati sudah berkata demikian, logikaku tetap butuh diyakinkan kalau jauhnya keyakinan hanya satu-dua jengkal.

Apakah jauh itu jarak perasaan kita berdua? Kita bisa saja bersama sekarang, kalau tidak hanya perasaanku saja yang jatuh, katamu. Kubilang, mungkin saja aku ikut jatuh bersamamu, tapi apa kamu yakin bisa melindungiku saat aku memilih untuk jatuh? Kita tidak sedang bisa soal ketika jatuh bisa bangkit lagi. Aku bicara tentang kita yang jika sudah jatuh bersama, hanya kita-lah yang bisa merawat perasaan kita berdua. Meskipun, jauhnya perasaan kita berdua hanya seperti rintik hujan yang menuju reda.

Kurasa, aku mengerti bagaimana mengukur jauh. Bukan dengan detik, menit ataupun jam. Bukan pula dengan sentimeter atau kilometer. Bukan juga dengan kayuhan sampan, lajunya kereta, maupun langkah-langkah kaki. Jauh itu diukur dengan pertemuan. Jauh itu jarak tiap pertemuan. Bahwa setiap pertemuan berakhir, ada janji untuk pertemuan esok, lusa, pekan depan, atau entah kapan. Bahwa setiap pertemuan berakhir, ada harap untuk bertemu lagi. Bahwa setiap pertemuan selalu diakhiri dengan ‘sampai jumpa lagi‘, bukan ‘selamat tinggal‘. Jauh itu jarak satu pertemuan ke pertemuan lainnya. Ya, jauh itu jarak pertemuan kita.

Kalau jarak ini sudah dirajut dengan rindu dan jauh bukan lagi soal jarak namun pertemuan, pertanyaanku untukmu saat itu cuma satu:

If the reason of everything we’ve been thru was loneliness, would you still be okay and stay with me?

***

Writer’s note:

Sedang sering membahas masalah jarak yang jauh dengan rekan-rekan di perantauan ataupun teman-teman dekat yang berada di lain kota. Menyadari bahwa jauh itu soal perspective. Dan menurutku, tidak ada jauh selama yang ditunggu adalah pertemuan. Karena dengan pertemuan, yang memiliki jarak merasa dekat, yang merasa jauh jadi tak lagi memikirkan lama waktu. Bukankah pertemuan selalu menyumbang banyak dalam mengingat? Lebih-lebih untuk menyambung yang jauh jadi dekat dan memperbanyak kenangan. Jangan lupa berkumpul, bertemu dan menyapa orang-orang tersayang. Jangan tunggu sampai jauh, karena ratusan kilometer tak mampu ditempuh hanya dengan pesan ‘aku rindu’. Cheers!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s