Jatuh

Aku selalu takut jatuh sejak pertama kali aku mengenal kata sakit. Aku teringat dulu aku jatuh dari sepeda roda tiga yang belum lama aku punya. Kata ibu, aku terlalu bersemangat mengayuh sampai akhirnya oleng dan jatuh. Kakiku lecet, tanganku kotor, dan aku menangis layaknya seorang balita menangis. Ibu bilang, ‘Sudah, jangan nangis. Ngga papa, huss huss sakitnya hilang. Sepedanya nakal ya, nih Ibu marahin, tapi Tita juga hati-hati ya. Cup cup cup.‘ Belum sampai sepuluh menit, aku sudah lupa dan berlari menuju sepedaku lagi seolah tak pernah terjadi apa-apa. Dan seperti itulah pertemuanku dengan jatuh dan mengenal sakit.

Suatu hari di usiaku yang ke 9, aku sedang bermain perang-perangan di teras rumah seorang teman. Sampai tiba-tiba, pijakan yang kukira lantai ternyata justru tangga. Aku jatuh, menggelinding sampai tangga paling bawah. Aku yang 9 tahun masih sama dengan aku yang balita, menangis. Kepalaku nyut-nyutan, sakit. Tapi, tak berapa lama aku sudah duduk berdua menonton TV dengan temanku. Diam-diam aku menyentuh kepala, dan ada darah disana. Aku pun berlari ke rumah, lalu berteriak sambil merengek, ‘Bapaaak, kepalaku berdarah. Huhuhu‘, dan dengan segera bapak melihat kepalaku. Bapak bilang, ‘Ngga papa, Ta, ngga papa, dikasih lidah buaya ya, agak sakit dikit, biar lukanya kering, mungkin nanti ada bekasnya. Kalo main hati-hati, udah, gausah dipegang-pegang.‘ Sebulan kemudian lukaku kering, meski ada sedikit pitak di kepala yang pelan-pelan ditumbuhi rambut, dan tentunya, bekas luka. Oleh-oleh jatuh dari tangga, kata bapak. Aku menyadari kalau jatuh ternyata bisa menyebabkan luka yang membekas meski sudah disembuhkan.

Sampai akhirnya aku mengenal jatuh yang lain. Jatuh yang menyenangkan. Jatuh yang membuat perut rasanya terlilit sesuatu. Jatuh yang membuatku senyum tiap matahari menyambut. Jatuh yang saat itu aku tau tidak sakit. Namanya: jatuh cinta.

Aku mengenal jatuh cinta di usiaku yang belasan tahun. Aku baru tau kalau jatuh cinta membuat kita menyukai apa-apa yang dia sukai. Aku baru tau kalau moodnya bisa mempengaruhi mood kita. Aku juga baru tau kalau jantung kita bisa berdegup sekencang itu sampai bibir pun ikut kelu. Aku pun bertanya-tanya, kenapa diberi nama jatuh cinta, padahal tidak ada yang terasa sakit. Aku yang saat itu belum tau, kalau jatuh cinta bisa menguras airmata lebih banyak dari apapun, kalau jatuh cinta bisa membuat luka yang tak bisa disembuhkan. Aku yang saat itu hanya mengerti kalau jatuh cinta membuat bertemu menjadikan lidah kelu, mata pun malu-malu dan bibir senyum tersipu. Aku yang waktu itu hanya mengenal jatuh cinta itu semenyenangkan menunggu hari senin datang.

Ya, sampai akhirnya, aku merasakan patah hati pertamaku. Aku yang saat itu mengenal sakit yang lain. Aku menangis tersedu-sedu, sendirian, di kamar. Tidak ada gendongan ibu, atau kata-kata menenangkan bapak. Tidak ada ibu yang membelaku dan tidak ada bapak yang mengobati sakitku. Aku yang belasan tahun itu, harus menghadapi sakit sendirian. Menghadapi jatuh tanpa bantuan mereka lagi. Dari hari itu, aku mengerti bahwa jatuh cinta ternyata memang bisa menyakitkan. Aku mengerti bahwa jatuh cinta adalah jatuh yang sakitnya hanya bisa diobati oleh waktu, mesti tetap saja, lukanya bisa terbuka kembali kapan saja.

Kemudian, aku merasakan jatuh cinta yang membahagiakan lagi hanya untuk merasakan sakitnya jatuh lagi. Berulang kali, sampai rasanya aku tak sanggup lagi untuk bangkit atau jatuh cinta lagi. Aku belajar sebuah kehilangan, ditinggalkan, dan meninggalkan. Bahwa jatuh cinta selalu punya konsekuensi. Bahwa jatuh cinta tidak melulu soal bahagia, tapi juga kesedihan yang timbul dari ‘jatuh‘nya. Berulang kali pula, aku belajar tersenyum menahan kegetiran di depan ibu dan bapak tiap kali namanya masih disebut. Hingga disebuah titik, aku memahami sepenuhnya bahwa jatuh cinta adalah soal memberi dengan ikhlas. Logikaku bilang, ‘Kamu sudah mengerti konsep jatuh cinta bukan? Jangan terulang lagi. Rasa-rasanya sudah cukup kamu mencintai mereka. Sekarang, giliranmu untuk lebih mencintai dirimu sendiri.’ Sedangkan perasaanku menyahut, ‘Aku tau kamu sudah berusaha kuat selama ini, tapi kenapa tidak mencoba jatuh cinta lagi? Semua orang tidak sama kan? Bibirmu berkata apa, tapi hatimu ingin cinta.’ Aku pun membentengi diri, menjalankan logikaku, menolak erangan hatiku sendiri.

Tapi tidak sampai aku dipertemukan lagi denganmu. Yang mencoba menarik kembali perasaanku. Yang berusaha membuka lagi celah-celah itu. Yang membuatku merasa ingin jatuh cinta denganmu. Kamu bilang, ‘Kita sama-sama pernah terluka. Aku juga sama. Tapi kalau kamu mau, aku ingin membuatmu jatuh cinta lagi.’ Aku meragu. Pikiranku masih dipenuhi dengan sangkalan-sangkalan yang makin lama makin membuatku lelah sendiri. Aku yang sudah bukan remaja lagi, masih takut untuk jatuh dan merasakan sakit lagi. Maka, kubilang, ‘Mungkin aku yang terlalu takut. Aku terlalu takut kalau jatuh cinta lagi akan membuka bekas-bekas luka yang dulu. Aku yang tidak siap kalau harus ditinggalkan lagi.’ Tentunya, ini bukan salahmu. Ini mungkin salahku yang jatuh terlalu dalam. Ini mungkin ketidakberdayaanku ketika sakit. Ini mungkin pula caraku untuk melindungi hatiku.

Barangkali aku hanya butuh pertemuan untuk memastikan bahwa bukan hanya aku yang jatuh. Bukankah setiap wanita selalu merasa ingin dimiliki? Bukankah tidak ada orang yang ingin merasakan sakitnya dua kali? Bukankah kita menyadari kalau kita sama-sama takut untuk memulai lagi? Barangkali memang aku yang tidak mau memulai karena tak mau menyakiti. Barangkali memang aku yang masih terpenjara di perasaan sendiri. Barangkali memang masih ada yang belum aku selesaikan di masalalu. Barangkali… aku hanya ingin diyakinkan kalau aku dicintai.

Jangan datang, kalau cuma ingin pergi. Jangan berjanji, kalau tak ingin disini. Jangan memiliki, kalau tak ingin mencintai.

Mungkin, aku yang sekarang hanya tak ingin menjumpai perpisahan lagi, lalu ditinggalkan lagi. Mungkin, aku yang sekarang hanya tak ingin melukai. Mungkin, aku yang sekarang hanya ingin kamu mengerti:

If I haven’t given up on someone because of his importance in my life, would you mind to wait for me a little longer?

Kalau dengan bersama dan saling jatuh cinta bisa membuat kita merasakan jatuh cinta yang membahagiakan lagi dan mengobati luka-luka kita berdua, kurasa jatuh lagi pun, aku tak apa.

🙂

****

Writer’s note:

Well… tulisan terpanjang nih ya. Sebenernya mau ngasih esensi dari jatuh cinta. Tapi sepertinya jadi melebar kemana-mana karena ditengah jalan sempat hilang arah. Hahaha mungkin lelah dan butuh sandaran. Lol. Anyway, prolognya panjang banget sih, dan honestly, ini semi fiction karena emang ada (banyak) yang based on true events *ups*. Tapi ya gitu deh, I’m bad at writing long article. Jadi, kalau ada yang sekiranya masih takut untuk jatuh cinta karena gak mau banyak drama aka tersakiti, relax babe, you’re not alone! Hahahaha selalu ada pilihan bukan untuk jatuh atau bertahan. Sama halnya dengan hati, entah memenangkan logika atau perasaan, hanya hatimu yang tau. But, if the time comes, jatuh cinta tidak pernah salah kok. So, selamat berdamai dan merengkuh cintamu! ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s