Memilih

Memilih.

Kurasa tidak pernah ada memilih yang mudah. Entah memilih diantara dua, atau memilih satu untuk bersama. Kurasa tidak ada yang ingin mendapatkan kesempatan untuk memilih jika pilihan-pilihan yang ada malah makin membuat keruh keadaan. Tidak ada yang mau berada di posisi penentu untuk melanjutkan dengan koma atau menghentikan dengan titik. Kurasa, memilih memang tak pernah memudahkan hidup.

Kalau pilihan punya perasaan, tentu masing-masing punya pembelaan atas dirinya untuk dipilih. Kalau pilihan punya logika, tentu masing-masing berlomba memberi alasan yang menurutnya paling masuk akal. Masing-masing pilihan tak ada yang meminta jadi yang pertama, apalagi diminta jadi yang kedua. Sekiranya ada kesempatan untuk mengutarakan, mungkin tiap pilihan akan meminta untuk jadi satu-satunya jawaban–bukan satu diantara dua.

Kukira memilih hal terjahat yang bisa dilakukan oleh seorang manusia adalah memilih satu diantara dua. Dan hal terkejam yang diberikan untuk seorang manusia adalah hak untuk memilih satu diantara dua. Bagaimana kita bisa memilih kalau dua-dua sama-sama baik? Bagaimana kita bisa memilih kalau keduanya berbeda dan tak bisa dibandingkan karena masing-masing punya value sendiri? Bagaimana mungkin kita bisa memilih kalau harus memenangkan satu tapi meninggalkan yang satu lagi? Barangkali tidak ada yang sanggup berada di posisi ini, apalagi dengan pikiran dan perasaan yang sama-sama saling memberatkan tiap pilihan.

Kalau begitu, memilih satu untuk bersama lebih mudah? Kupikir, tidak juga. Memilih satu tetap tak serta merta jawabannya ‘iya‘. Justru karena memilih satu, pilihannya adalah diambil atau ditinggalkan. Padahal kita tak pernah tau, apakah hal itu baik bagi kita kalau kita ambil atau malah sebenarnya kita harus meninggalkannya karena hal itu buruk bagi kita? Memilih satu adalah soal keteguhan hati, Memilih satu adalah soal kepercayaan dalam pilihan yang ada. Memilih satu adalah soal menerima tanpa menuntut. Bukankah memilih satu menjadikan kita orang yang lebih bijak, dengan tidak membanding-bandingkan, misalnya?

Mungkin memilih satu diantara dua adalah cara Tuhan untuk mengajari kita tentang melepaskan dan tentang keikhlasan. Mungkin Tuhan sedang menguji kita untuk melepaskan hal-hal baik di hidup, entah nantinya untuk digantikan yang lebih baik dengan apa yang sudah kita pilih, atau malah untuk dilindungi dan dipertemukan lagi nanti. Mungkin ini juga cara Tuhan untuk tau seberapa besar kita bisa menerima perubahan. Mungkin ini Tuhan yang sedang mencoba berbicara dengan kita.

Dan mungkin hal terbaik adalah memilih satu untuk bersama. Bukan karena tak ada pilihan lain, tapi mungkin Tuhan yang telah memilahnya untuk kita. Mungkin yang satu memang baik, atau malah sudah terbaik. Mungkin Tuhan sedang mencoba berdialog lewat kebersamaan agar kita belajar cara bersyukur. Mungkin ini yang Tuhan mau untuk menilai sebaik apa kita menjaga satu-satunya pilihan. Mungkin pula ini cara Tuhan menunjukkan bahwa yang terbaik bukan datang dari dua pilihan, namun satu, yang darinya kita menjadi seorang yang lebih baik.

Barangkali memang Tuhan yang sedang menulis pesan lewat kedatangan pilihan kita itu:

‘Kalau yang terbaik datang tanpa diduga, maka ini mungkin yang pilihan terbaik untukmu. Kalau yang terbaik selalu datang di waktu yang tepat, maka bersabarlah, barangkali memang pilihan ini yang paling baik untukmu saat ini.’

Tidak ada manusia yang tega memenangkan yang satu tapi meninggalkan yang lainnya. Mungkin, pada akhirnya, manusia tidak akan memilih keduanya, hanya untuk memastikan tidak ada yang terluka karena terpilih dan tidak dipilih. Biarlah waktu yang akan menjawab, pilihan mana yang terbaik. Biarlah nanti aku yang mencari jawaban tentang memilih satu diantara dua. Karena sesungguhnya, mungkin aku yang terlalu takut kehilangan.

***

Writer’s note:

Eee…. actually, I’m not sure sih ini soal pilihan atau memilih apa. Randomly write this without consent. Kalimatnya juga acak-acakan. Jadi gatau juga mau nulis apa di write’s note. However, kalau memang sedang dihadapkan dengan dua pilihan, ada yang pernah bilang, pilihan kedua tidak akan muncul kalau kamu tidak merasa kehilangan yang pertama, dan ada juga yang bilang, sejatinya orang akan selalu kembali ke pilihan pertama meski akan ada pilihan ke-2, 3, 4, 5, dst. Nah, kalau bingung, yang terbaik itu selalu mudah kok, yang berjodoh dengan takdir kita itu  pasti mudah, kalau ngga mudah, mungkin memang bukan yang terbaik. Ya, kalau terbaik pasti mudah dan dimudahkan, entah bagaimana pun kita memikirkan ketidakmungkinannya, pasti ada jalannya. Bukankah takdir dan keputusan Tuhan itu lucu? Lucu karena selalu saja kebetulan-kebetulan yang terjadi malah memudahkan kita. Selamat memilih ya. Memilih yang membahagiakanmu, tentu saja! Cheers! ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s