Memilih

Memilih.

Kurasa tidak pernah ada memilih yang mudah. Entah memilih diantara dua, atau memilih satu untuk bersama. Kurasa tidak ada yang ingin mendapatkan kesempatan untuk memilih jika pilihan-pilihan yang ada malah makin membuat keruh keadaan. Tidak ada yang mau berada di posisi penentu untuk melanjutkan dengan koma atau menghentikan dengan titik. Kurasa, memilih memang tak pernah memudahkan hidup.

Kalau pilihan punya perasaan, tentu masing-masing punya pembelaan atas dirinya untuk dipilih. Kalau pilihan punya logika, tentu masing-masing berlomba memberi alasan yang menurutnya paling masuk akal. Masing-masing pilihan tak ada yang meminta jadi yang pertama, apalagi diminta jadi yang kedua. Sekiranya ada kesempatan untuk mengutarakan, mungkin tiap pilihan akan meminta untuk jadi satu-satunya jawaban–bukan satu diantara dua.

Kukira memilih hal terjahat yang bisa dilakukan oleh seorang manusia adalah memilih satu diantara dua. Dan hal terkejam yang diberikan untuk seorang manusia adalah hak untuk memilih satu diantara dua. Bagaimana kita bisa memilih kalau dua-dua sama-sama baik? Bagaimana kita bisa memilih kalau keduanya Continue reading

Advertisements