Tentang

Barangkali memang tak pernah terlintas olehku bahwa yang akan bersamaku sekarang ini kamu. Barangkali pula namamu tak pernah terucap dalam doa-doa malamku hingga kemarin. Barangkali inilah kebetulan menyenangkan yang kita sebut dengan ‘takdir’.

***

Aku masih saja bertanya-tanya tentang kita hingga detik ini. Apakah kebersamaan ini nyata? Apakah kamu benar-benar menerimaku apa adanya? Apakah kita memang ditakdirkan untuk bersama? Aku masih meragu, bukan kepada kamu, tapi kepada kemampuanku untuk menyayangimu sebesar kamu ke aku. Aku masih tak percaya diri dengan kebersamaan kita–yang terasa dekat, namun nyatanya jarak membuat kita jauh. Aku mungkin memang masih belum seyakin kamu, tapi diatas semua ketidakyakinanku, aku sedang berharap selama ini memang kamu.

***

Kamu menjatuhcintaiku seolah aku-lah satu-satunya sumber bahagiamu. Kamu menyayangiku seolah aku-lah alasanmu untuk berbahagia tiap hari. Kamu memelukku seolah aku-lah yang paling kamu takuti pergi dari hidupmu. Continue reading

Menjumpai Pagi Tanpa (-ku)

Pernah suatu hari aku teringat tentang Pagi favoritku. Pagi favorit yang sudah tak kujumpai lagi. Pagi favorit yang sudah tak lagiĀ berada diĀ deretan hal-hal terfavoritku.

***
Apa kabar, Pagi? Sudah lama kita tak saling menyapa. Mendung selalu membatasi kita untuk sekedar bertukar sapa. Ada jarak yang tercipta diantara kita sejak saat itu, ya. Aku mendadak teringat tentang kisah kita. Kisah yang tak pernah kusesali adanya. Kisah yang mengajariku bahwa pagi akan selalu datang, meski pagi itu bukan lagi kamu.

Pernahkah kamu merasa ingin menarik semua benang-benang kusut kita, lalu menciptakan cerita-cerita yang mungkin saja berakhir lebih bahagia?
Suatu hari di penghujung malam, aku pernah melakukannya.

Aku membayangkan saat ini kita sedang saling menguatkan. Dalam kasus ini, kamu selalu menjadi janji tentang Pagi yang pasti akan datang. Sedangkan aku menjadi aku yang selalu memberimu harapan bahwa esok pasti selalu lebih baik dari sekarang. Mungkin saat ini kita sedang berebut soal argumen siapa yang paling benar, tentang buku-buku favorit kita atau film-film yang baru kita tonton kemarin sore. Membicarakan hal-hal sepele macam ini. Continue reading

Quote

Barangkali, Suatu Hari Nanti..

Barangkali kita pernah saling melewatkan, sampai akhirnya kita berada di titik mungkin-memang-kita-tidak-ditakdirkan-bersama.Ā Barangkali kita juga pernah berusaha membuat satu sama lain menyadari kehadiran masing-masing, sampai akhirnya kita mulaiĀ mempertanyakan sendiri apakah kehadiran masing-masing begitu berarti. Barangkali kita pun pernah mencoba menahan diri untuk tidak saling jatuh cinta, sampai akhirnya masing-masing kita merasa tak ada seseorang yang menarik di hati masing-masing.

Barangkali kita sama-sama takut mengakui bahwa kehadiran masing-masing memiliki arti lebih dalam hidup. Barangkali pula kita sama-sama memenangkan ego kita sendiri, meyakinkan diri bahwa Continue reading

Coming Home

Postingan ini untuk mengikuti Giveaway #ResiduNamarappuccino

***

Kamu adalah pagi yang selalu ditunggu-tunggu. Terutama, oleh aku. Cerita tentang kita bermula ketika aku dan kamu memutuskan menyukai pagi lebih dari waktu-waktu lainnya.

**

5701510561_c9a847f117_b

I’ve known you for two years. Kita selalu berbagi cerita tentang segala hal. Tentang kesukaanku dan kesukaanmu. Tentang apa yang terjadi satu hari ini. Tentang hal-hal sepele yang tidak penting tak menyenangkan. Semua cerita itu sangat menyenangkan dan membuatku tak bosan. Bukan karena ceritanya, tapi karena kamu-nya. Karena denganmu, semua terasa menyenangkan.

Aku bilang, kamu itu partnerku. Everytime I’m with you, I feel like coming home. Kamu membuatku nyaman. Seolah aku telah mengenalmu seumur hidupku. Seolah kamu bukan orang lain, tapi my behalf. Aku pernah menulis untukmu waktu itu, mengutip posting blog dariĀ Namarappuccino yang di-share oleh teman kita via WhatsApp, ‘Karena itulah, aku selalu di sini tidak pernah pergi apa pun yang menimpamu, dulu, sekarang, ataupun nanti. Karena akulah tempat kamu bisa selalu pulang.‘ Aku ingin kamu merasakan hal sama sepertiku: pulang, tiap kali kamu bersamaku. Ya, aku sangat menyukai postinganĀ Satu Shaf di Belakangmu itu. Sederhana, tapi penuh makna. Seolah menggambarkan perasaan tiap wanita kepada lelakinya. Seperti aku kepada kamu.

Sekarang… Continue reading

Memori

Postingan ini untuk mengikuti Giveaway #ResiduNamarappuccino
Ā morning_tea__by_kyrateppelin-d46jihd

***

Tahun pertama.

Aku mengenalmu dengan cara yang tak terduga. Pertama, aku bertemu denganmu beberapa tahun yang lalu di tempat yang jauh dari kata romantis, meski cukup unforgettable: di taman depan gerbang sekolah. Waktu itu, aku sedang duduk menanti ayahku datang menjemput, sedangkan kamu duduk di taman menanti bus. Saat itu hanya tinggal kita berdua. Sekolah sudah sepi, gerbang sekolah sudah dikunci, dan senja mulai menepi. Kamu sempat menengok ke arahku duduk, mungkin kamu penasaran siapa gadis yang belum juga pulang ketika petang datang. Dari sisiku, kamu terlihat begitu dewasa dan berkharisma. Mataku tak bisa lepas dari menatap punggungmu dan sisi wajahmu. Entah, mungkin karena kacamata yang membingkai wajahmu itu begitu pas. Atau, I was just simply.. falling in love with you in the first sight.

Tahun kedua.

Aku tak mengira kalau sketsa punggungmu sore itu masih tertinggal di pikiran dan benakku, ketika aku mendadak teringat sosokmu. Padahal kamu sudah tidak bisa lagi kutemui seperti sore itu. Kamu sudah tidak berseragam sama denganku. Ya, sejak saat itu aku ingat, kamu adalah seniorku. Untuk pertama dalam hidupku, aku merindukan sosokmu yang menunggu bus datang di taman depan sekolah. I missed a person whom his presence was not around. Aku merindukanmu tanpa ada sosokmu disekitarku. Aneh. Tapi, apa itu yang disebut jatuh cinta? Atau aku hanya kagum? Entahlah. Meski begitu, aku mencoba mencari tahu kabarmu lewat orang yang tentunya tak terduga. Kusebut dia sebagai miss cupid kita. Ya, aku diam-diam memendam penasaranku tentangmu. Aku ingin mengenalmu.

Tahun ketiga.

Aku tak tahu apakah takdir yang mempertemukan kita, atau doa-doaku yang membuat kita saling mengenal? Akhirnya, aku dan kamu telah saling mengenal. Prosesnya? Jangan ditanya. Biar jadi rahasiaku dan kamu saja. Walaupun aku dan kamu telah saling mengenal, pertemuan kita hanya hitungan jari. Aku ingat, pertemuan pertama kita. Waktu itu, kamu sedang menghadiri acara besar mewakili sekolahmu. Aku, yang tidak tahu akan bertemu denganmu, datang untuk menyaksikan acara itu juga. Saat aku sedang menunggu acara dimulai, disitulah kamu datang tepat ke arahku. Aku tak menyadari sampai kamu cukup dekat dari jarak pandangku. Masih dengan bingkai kacamata yang sama. Masih dengan kharisma yang sama. Masih dengan wajah yang dewasa yang sama. Well, meski harus kuakui, kamu bertambah hmm.. tampan. Lalu, kamu menyapaku. Gawat, hatiku menjerit-jerit, batinku. Aku gelagapan menanggapi sapaanmu. Aku terpesona. Lagi.

Tahun keempat.

Aku ‘terjebak’ di tempat yang sama denganmu. Continue reading

He’s A Best (Guy) Friend A Woman is Truly Grateful to Have #Part1

So? How the title sounds? Expecting something? Haha.Well okay, this post is about my bestfriend whom I have written about three years ago (see: Sepucuk Surat untuk Sahabat). My 2nd post which needs A LOT like really a lot of time to finish! This person I would tell you is the person who had changed my perspective of life–in this case was: Friendship.

IMG_4161

Suryo Baskoro aka Oyo

Suryo Baskoro. 22 years.

Oyo, that’s how I called him. I met him in Junior High School. We were in the same class for three years; 7F-8F-9F. Quite long huh? So it was like… 9 years ago? Hahaha. But, in the seventh grade we were barely knew each other closely. If I am not mistaken, we performed together as a Nasyid team to participate like-an-Islamic-event-in-the-school which he played the guitar, while my friends and I were singing. Maybe that was the time we knew each other better. (Well, I forget though the details. Sorry! :B).

When we were in the 8th grade, (I think that was the time we, somehow, shared stories and got closer) we spent a lot of time together with our classmates, singing songs outside the class, laughing at each other’s stories, having lunch and such. Since he was a sociable person, most of the members of class were really close to him–he was even being their (good) listener. So did I. Then, he formed a band which called De Elf with Rebet, Seisar, and Abi.

deelf6

Mini reunion of De Elf and friends. From left, Oyo, Tita, Seisar, Lita, Rebet, Abi.

And well, the problem appeared when we were in the 9th grade. But, I’d like to tell the whole story in the following post, since it was really heart-breaking as for me. This post is an introduction and a birthday post in disguise hahaha. Yes, today (yesterday) is Oyo’s birthday, September 8th.

SOOOOOO,

IMG_9896

BUON COMPLEANNO MIO AMICO, SURYO BASKORO!!!

Continue reading

Okaerinasai

8718549751_99fe958e77_b

Okaerinasai.

You have been here almost 2 months. I welcomed you with the warmest smile I’ve ever given. I was definitely happy waiting you to come back here. I had never expected that it was going to be my last, smiling and hugging you. I had never anticipated to lose you this early.

Ya.. Welcome back home. Home you’d stayed for more than 2 years. Home you’d longed since the first meeting. Home you’d missed whenever you were away. Our Continue reading