Tentang

Barangkali memang tak pernah terlintas olehku bahwa yang akan bersamaku sekarang ini kamu. Barangkali pula namamu tak pernah terucap dalam doa-doa malamku hingga kemarin. Barangkali inilah kebetulan menyenangkan yang kita sebut dengan ‘takdir’.

***

Aku masih saja bertanya-tanya tentang kita hingga detik ini. Apakah kebersamaan ini nyata? Apakah kamu benar-benar menerimaku apa adanya? Apakah kita memang ditakdirkan untuk bersama? Aku masih meragu, bukan kepada kamu, tapi kepada kemampuanku untuk menyayangimu sebesar kamu ke aku. Aku masih tak percaya diri dengan kebersamaan kita–yang terasa dekat, namun nyatanya jarak membuat kita jauh. Aku mungkin memang masih belum seyakin kamu, tapi diatas semua ketidakyakinanku, aku sedang berharap selama ini memang kamu.

***

Kamu menjatuhcintaiku seolah aku-lah satu-satunya sumber bahagiamu. Kamu menyayangiku seolah aku-lah alasanmu untuk berbahagia tiap hari. Kamu memelukku seolah aku-lah yang paling kamu takuti pergi dari hidupmu. Continue reading