Status

Ksatria, Matahari, dan Bijaksana

Dulu, aku pertama berjumpa Sang Matahari di peristiwa yang tidak terduga. Menjadi sumber cahaya dan kehangatan, itu kesan pertamaku. Matahari menjadi teman yang tak pernah bisa tak kuhiraukan–mungkin karena kehangatan yang ia cipta effortlessly. Aku kagum, sebagai teman, awalnya. Lalu, aku lebih kagum lagi ketika Matahari selalu menjadi penerang dalam tiap usahaku. Mungkin aku jatuh cinta. Jatuh cinta pada bias-bias cahaya yang jatuh lewat kebaikan-kebaikannya untukku. Dengan segala upaya, aku mencoba menerka, mendekat, tapi pada akhirnya, Matahari selalu memilih Rembulan. Tahun pun bergulir, dengan mengatasnamakan persahabatan, aku menekan segala ego dan mendukung kisah mereka. Meski saat ini, Matahari memilih untuk sendiri menyinari Bumi–yang belum ia temui.

Dan, disitulah aku mengenal Sang Ksatria–di keadaan yang sedang carut marut karena ketidaktahuanku. Ksatria menjadi tempat lariku, kala aku tak mampu membendung segala perasaanku. Ksatria jugalah yang mengajarkanku untuk stay strong dan menjadi orang yang lebih baik. Aku seketika paham kenapa Ksatria adalah Ksatria. Karena Ksatria adalah sosok yang lewat hunusan-hunusan pedangnya, mengajarkan kebaikan dan menyelamatkan orang-orang dari ketidaktahuan. Aku menyadari bahwa aku, ternyata, memang mengagumi Ksatria. Kekaguman yang seringkali membuat kesalahpahaman karena ia selalu berpikir 2-3 langkah lebih cepat dari rata-rata orang. Bertahun-tahun sejak saat itu, kekagumanku masih ada, tapi its form sudah berubah. Mengidolakan Ksatria bukan hal yang mudah untukku. Berkali-kali, aku berpapasan dengannya, tanpa pernah tau kenapa. Berkali-kali pula, ucapan tajamnya menusukku. Aku menganggapnya sebagai keluarga. Dan mungkin, dia tidak.

Suatu hari, aku ingin menyelesaikan segala kesalahpahamanku dengan Sang Ksatria. Lewat hal-hal yang tak bisa kuceritakan disini, aku dan Ksatria bersepakat untuk menjadi kerabat, dimana ia akan tetap menjadi Ksatria yang memberi kebaikan dan aku tetap menjadi pendukungnya untuk menemukan Tuan Putri. Hari itu pun tiba. Hari dimana Ksatria menjemput Tuan Putri. Continue reading

Advertisements

“Semangat!”, katamu..

129619295495618536_afsn9wdg_c1

Sampai detik ini aku merasa letih yang teramat letih. Aku lelah yang terasa sangat melelahkan. Aku sedang bekerja sendiri di sini. Aku sedang berjuang di sini. Untuk kamu, untuk kita, untuk bersama. I am trying my best and giving all my best into this.

Aku bahkan tidak menyadari, seharian ini tak ada setetes air pun yang masuk melalui kerongkonganku, dan bahkan sesendok nasi–tak ada. Laparku hilang, Pagi. Dahagaku tak terasa. Entah menguap kemana. Hanya satu yang penuh: pikiranku. Penuh-sepenuhnya. Rasanya.. aku ingin sebentar saja merebahkan badan, mengistirahatkan kepala, bercerita berdua denganmu, berkeluh-kesah tentang kita. Sayangnya, aku tau, itu tidaklah mungkin. Aku di sini–di bumi tempat kita bertemu, sedangkan kamu di sana–di antara awan-awan yang masih senantiasa menggelayutimu, erat.

Aku berusaha bertahan, Pagi. Karena ini untukmu. Sekuatnya. Sampai akhirnya, semalam aku tak kuasa meredam emosi dan lelah. Aku mengeluh. Aku mengeluh padamu–yang seharusnya tidak boleh kulakukan. Aku.. di titik terlelah yang tak terjabarkan. Aku lelah dan membutuhkanmu, di sini, bersamaku. Dan.. kamu pun mengucapkan kalimat yang paling ingin kudengar: Continue reading