Tentang

Barangkali memang tak pernah terlintas olehku bahwa yang akan bersamaku sekarang ini kamu. Barangkali pula namamu tak pernah terucap dalam doa-doa malamku hingga kemarin. Barangkali inilah kebetulan menyenangkan yang kita sebut dengan ‘takdir’.

***

Aku masih saja bertanya-tanya tentang kita hingga detik ini. Apakah kebersamaan ini nyata? Apakah kamu benar-benar menerimaku apa adanya? Apakah kita memang ditakdirkan untuk bersama? Aku masih meragu, bukan kepada kamu, tapi kepada kemampuanku untuk menyayangimu sebesar kamu ke aku. Aku masih tak percaya diri dengan kebersamaan kita–yang terasa dekat, namun nyatanya jarak membuat kita jauh. Aku mungkin memang masih belum seyakin kamu, tapi diatas semua ketidakyakinanku, aku sedang berharap selama ini memang kamu.

***

Kamu menjatuhcintaiku seolah aku-lah satu-satunya sumber bahagiamu. Kamu menyayangiku seolah aku-lah alasanmu untuk berbahagia tiap hari. Kamu memelukku seolah aku-lah yang paling kamu takuti pergi dari hidupmu. Continue reading

Advertisements
Quote

Hidup Ini Lucu

Hidup ini lucu ya.
Seseorang yang dulu adalah dunia bagi kita, sekejap saja bisa menjadi orang asing yang saling menyapa pun tidak. Seseorang yang dulu sangat berarti bisa berubah menjadi seseorang yang menyebabkan sesak di ulu hati. Seseorang yang selalu menjadi alasan kita bangun lebih pagi bisa menjadi penyebab kita tak mau jatuh cinta lagi.

Hidup ini lucu ya.
Mereka bilang tak bisa bersama karena masing-masing sudah memiliki pasangan, tapi mereka bilang tak bisa saling melupakan. Mereka memutuskan untuk mengakhiri semua, tapi mereka juga yang memutuskan untuk tak saling memutus asa. Mereka janji ingin melangkah maju dan melupakan perasaan masing-masing, tapi mereka juga yang diam-diam masih menjalin hubungan di belakang.

Hidup ini lucu ya.
Dia bercerita tak ingin jatuh lagi di lubang yang sama, tapi Continue reading

Quote

Barangkali, Suatu Hari Nanti..

Barangkali kita pernah saling melewatkan, sampai akhirnya kita berada di titik mungkin-memang-kita-tidak-ditakdirkan-bersama. Barangkali kita juga pernah berusaha membuat satu sama lain menyadari kehadiran masing-masing, sampai akhirnya kita mulai mempertanyakan sendiri apakah kehadiran masing-masing begitu berarti. Barangkali kita pun pernah mencoba menahan diri untuk tidak saling jatuh cinta, sampai akhirnya masing-masing kita merasa tak ada seseorang yang menarik di hati masing-masing.

Barangkali kita sama-sama takut mengakui bahwa kehadiran masing-masing memiliki arti lebih dalam hidup. Barangkali pula kita sama-sama memenangkan ego kita sendiri, meyakinkan diri bahwa Continue reading

Coming Home

Postingan ini untuk mengikuti Giveaway #ResiduNamarappuccino

***

Kamu adalah pagi yang selalu ditunggu-tunggu. Terutama, oleh aku. Cerita tentang kita bermula ketika aku dan kamu memutuskan menyukai pagi lebih dari waktu-waktu lainnya.

**

5701510561_c9a847f117_b

I’ve known you for two years. Kita selalu berbagi cerita tentang segala hal. Tentang kesukaanku dan kesukaanmu. Tentang apa yang terjadi satu hari ini. Tentang hal-hal sepele yang tidak penting tak menyenangkan. Semua cerita itu sangat menyenangkan dan membuatku tak bosan. Bukan karena ceritanya, tapi karena kamu-nya. Karena denganmu, semua terasa menyenangkan.

Aku bilang, kamu itu partnerku. Everytime I’m with you, I feel like coming home. Kamu membuatku nyaman. Seolah aku telah mengenalmu seumur hidupku. Seolah kamu bukan orang lain, tapi my behalf. Aku pernah menulis untukmu waktu itu, mengutip posting blog dari Namarappuccino yang di-share oleh teman kita via WhatsApp, ‘Karena itulah, aku selalu di sini tidak pernah pergi apa pun yang menimpamu, dulu, sekarang, ataupun nanti. Karena akulah tempat kamu bisa selalu pulang.‘ Aku ingin kamu merasakan hal sama sepertiku: pulang, tiap kali kamu bersamaku. Ya, aku sangat menyukai postingan Satu Shaf di Belakangmu itu. Sederhana, tapi penuh makna. Seolah menggambarkan perasaan tiap wanita kepada lelakinya. Seperti aku kepada kamu.

Sekarang… Continue reading

Memori

Postingan ini untuk mengikuti Giveaway #ResiduNamarappuccino
 morning_tea__by_kyrateppelin-d46jihd

***

Tahun pertama.

Aku mengenalmu dengan cara yang tak terduga. Pertama, aku bertemu denganmu beberapa tahun yang lalu di tempat yang jauh dari kata romantis, meski cukup unforgettable: di taman depan gerbang sekolah. Waktu itu, aku sedang duduk menanti ayahku datang menjemput, sedangkan kamu duduk di taman menanti bus. Saat itu hanya tinggal kita berdua. Sekolah sudah sepi, gerbang sekolah sudah dikunci, dan senja mulai menepi. Kamu sempat menengok ke arahku duduk, mungkin kamu penasaran siapa gadis yang belum juga pulang ketika petang datang. Dari sisiku, kamu terlihat begitu dewasa dan berkharisma. Mataku tak bisa lepas dari menatap punggungmu dan sisi wajahmu. Entah, mungkin karena kacamata yang membingkai wajahmu itu begitu pas. Atau, I was just simply.. falling in love with you in the first sight.

Tahun kedua.

Aku tak mengira kalau sketsa punggungmu sore itu masih tertinggal di pikiran dan benakku, ketika aku mendadak teringat sosokmu. Padahal kamu sudah tidak bisa lagi kutemui seperti sore itu. Kamu sudah tidak berseragam sama denganku. Ya, sejak saat itu aku ingat, kamu adalah seniorku. Untuk pertama dalam hidupku, aku merindukan sosokmu yang menunggu bus datang di taman depan sekolah. I missed a person whom his presence was not around. Aku merindukanmu tanpa ada sosokmu disekitarku. Aneh. Tapi, apa itu yang disebut jatuh cinta? Atau aku hanya kagum? Entahlah. Meski begitu, aku mencoba mencari tahu kabarmu lewat orang yang tentunya tak terduga. Kusebut dia sebagai miss cupid kita. Ya, aku diam-diam memendam penasaranku tentangmu. Aku ingin mengenalmu.

Tahun ketiga.

Aku tak tahu apakah takdir yang mempertemukan kita, atau doa-doaku yang membuat kita saling mengenal? Akhirnya, aku dan kamu telah saling mengenal. Prosesnya? Jangan ditanya. Biar jadi rahasiaku dan kamu saja. Walaupun aku dan kamu telah saling mengenal, pertemuan kita hanya hitungan jari. Aku ingat, pertemuan pertama kita. Waktu itu, kamu sedang menghadiri acara besar mewakili sekolahmu. Aku, yang tidak tahu akan bertemu denganmu, datang untuk menyaksikan acara itu juga. Saat aku sedang menunggu acara dimulai, disitulah kamu datang tepat ke arahku. Aku tak menyadari sampai kamu cukup dekat dari jarak pandangku. Masih dengan bingkai kacamata yang sama. Masih dengan kharisma yang sama. Masih dengan wajah yang dewasa yang sama. Well, meski harus kuakui, kamu bertambah hmm.. tampan. Lalu, kamu menyapaku. Gawat, hatiku menjerit-jerit, batinku. Aku gelagapan menanggapi sapaanmu. Aku terpesona. Lagi.

Tahun keempat.

Aku ‘terjebak’ di tempat yang sama denganmu. Continue reading

He’s A Best (Guy) Friend A Woman is Truly Grateful to Have #Part1

So? How the title sounds? Expecting something? Haha.Well okay, this post is about my bestfriend whom I have written about three years ago (see: Sepucuk Surat untuk Sahabat). My 2nd post which needs A LOT like really a lot of time to finish! This person I would tell you is the person who had changed my perspective of life–in this case was: Friendship.

IMG_4161

Suryo Baskoro aka Oyo

Suryo Baskoro. 22 years.

Oyo, that’s how I called him. I met him in Junior High School. We were in the same class for three years; 7F-8F-9F. Quite long huh? So it was like… 9 years ago? Hahaha. But, in the seventh grade we were barely knew each other closely. If I am not mistaken, we performed together as a Nasyid team to participate like-an-Islamic-event-in-the-school which he played the guitar, while my friends and I were singing. Maybe that was the time we knew each other better. (Well, I forget though the details. Sorry! :B).

When we were in the 8th grade, (I think that was the time we, somehow, shared stories and got closer) we spent a lot of time together with our classmates, singing songs outside the class, laughing at each other’s stories, having lunch and such. Since he was a sociable person, most of the members of class were really close to him–he was even being their (good) listener. So did I. Then, he formed a band which called De Elf with Rebet, Seisar, and Abi.

deelf6

Mini reunion of De Elf and friends. From left, Oyo, Tita, Seisar, Lita, Rebet, Abi.

And well, the problem appeared when we were in the 9th grade. But, I’d like to tell the whole story in the following post, since it was really heart-breaking as for me. This post is an introduction and a birthday post in disguise hahaha. Yes, today (yesterday) is Oyo’s birthday, September 8th.

SOOOOOO,

IMG_9896

BUON COMPLEANNO MIO AMICO, SURYO BASKORO!!!

Continue reading

Post Teaser: KKN

It’s been a while, pals.

Honestly, I have some drafts to post in the blog, but it has not finished yet. Whether it needs some improvements in the sentences or some images or videos to make it more eye-catching. Thus, I deeply am sorry for that.

It comes to my mind that probably I need to make post teaser, before upload the final post, so I will look more productive, agree? Hahaha. Pardon my grammar if I do not use a proper sentence or word, I’m still a human by the way. :p

Well.. As everyone knows (I suppose!), this year I am going to do KKN (Kuliah-Kerja-Nyata) or Community Service in Bangka. Yes, IT IS SO FAR from Jogja. I formed a group of 8 people at first, that was around November 2013 (quite long!) The members are Adhistia V. Y., Adientya Nur P., Adhikrita Arif P., Dyah Arwinka, Reza G. Satriaji, Wahyu Imam P., Bagas Maulana and of course, me. From 8 people, we have more and more, it was 22 people on April 2014.

~~~

Though we had planned everything in detail, like a wise man has ever said, a perfect plan will face an imperfect situation, that’s what we have through till now. A lot of obstacles we try to overcome together. How we barely stayed in the team when everything was in a total chaos. How uni made us weaker and stronger in the same time. How the bound of friendship we have built for the past six months has become much stronger.

I will share everything here. I will tell you the process of this project. I will definitely write every single detail I can remember, from the situation, texts, WhatsApp, thoughts, conversations, and everything. Yet, pardon me if later on I forget some parts, because it has been too long to write everything. Still, I am trying to. 🙂

 

Above all,

I already love you more than I thought I would..