Quote

Yang Keempat

Aku tidak pernah merasa setidak-yakin ini, ketika harus memutuskan memilih. Belum pernah ada sebuah keputusan yang membuat kepalaku harus berdengung berhari-hari. Aku, dalam ketidakyakinanku, terus membentengi pada apa-apa yang mendekatkanku padamu. Berkali-kali pula aku mempertanyakan perasaan-perasaan yang sering kali membingungkanku. Lalu, tiba-tiba saja aku sudah jatuh cinta pada keinginanmu: meyakinkan aku.

Itu, adalah alasan kesatu.

Menjadi yang diinginkan ternyata memang menyenangkan. Apalagi ketika diinginkan seperti aku adalah satu-satunya yang mampu membahagiakanmu. Padahal, justru aku yang berbahagia hanya dengan keberadaanmu. My heart skips a beat, a milisecond faster in the way I’d never dreamed of, but now.

Itu, adalah alasan kedua.  Continue reading

Advertisements

Tentang

Barangkali memang tak pernah terlintas olehku bahwa yang akan bersamaku sekarang ini kamu. Barangkali pula namamu tak pernah terucap dalam doa-doa malamku hingga kemarin. Barangkali inilah kebetulan menyenangkan yang kita sebut dengan ‘takdir’.

***

Aku masih saja bertanya-tanya tentang kita hingga detik ini. Apakah kebersamaan ini nyata? Apakah kamu benar-benar menerimaku apa adanya? Apakah kita memang ditakdirkan untuk bersama? Aku masih meragu, bukan kepada kamu, tapi kepada kemampuanku untuk menyayangimu sebesar kamu ke aku. Aku masih tak percaya diri dengan kebersamaan kita–yang terasa dekat, namun nyatanya jarak membuat kita jauh. Aku mungkin memang masih belum seyakin kamu, tapi diatas semua ketidakyakinanku, aku sedang berharap selama ini memang kamu.

***

Kamu menjatuhcintaiku seolah aku-lah satu-satunya sumber bahagiamu. Kamu menyayangiku seolah aku-lah alasanmu untuk berbahagia tiap hari. Kamu memelukku seolah aku-lah yang paling kamu takuti pergi dari hidupmu. Continue reading

Quote

Barangkali, Suatu Hari Nanti..

Barangkali kita pernah saling melewatkan, sampai akhirnya kita berada di titik mungkin-memang-kita-tidak-ditakdirkan-bersama. Barangkali kita juga pernah berusaha membuat satu sama lain menyadari kehadiran masing-masing, sampai akhirnya kita mulai mempertanyakan sendiri apakah kehadiran masing-masing begitu berarti. Barangkali kita pun pernah mencoba menahan diri untuk tidak saling jatuh cinta, sampai akhirnya masing-masing kita merasa tak ada seseorang yang menarik di hati masing-masing.

Barangkali kita sama-sama takut mengakui bahwa kehadiran masing-masing memiliki arti lebih dalam hidup. Barangkali pula kita sama-sama memenangkan ego kita sendiri, meyakinkan diri bahwa Continue reading

Coming Home

Postingan ini untuk mengikuti Giveaway #ResiduNamarappuccino

***

Kamu adalah pagi yang selalu ditunggu-tunggu. Terutama, oleh aku. Cerita tentang kita bermula ketika aku dan kamu memutuskan menyukai pagi lebih dari waktu-waktu lainnya.

**

5701510561_c9a847f117_b

I’ve known you for two years. Kita selalu berbagi cerita tentang segala hal. Tentang kesukaanku dan kesukaanmu. Tentang apa yang terjadi satu hari ini. Tentang hal-hal sepele yang tidak penting tak menyenangkan. Semua cerita itu sangat menyenangkan dan membuatku tak bosan. Bukan karena ceritanya, tapi karena kamu-nya. Karena denganmu, semua terasa menyenangkan.

Aku bilang, kamu itu partnerku. Everytime I’m with you, I feel like coming home. Kamu membuatku nyaman. Seolah aku telah mengenalmu seumur hidupku. Seolah kamu bukan orang lain, tapi my behalf. Aku pernah menulis untukmu waktu itu, mengutip posting blog dari Namarappuccino yang di-share oleh teman kita via WhatsApp, ‘Karena itulah, aku selalu di sini tidak pernah pergi apa pun yang menimpamu, dulu, sekarang, ataupun nanti. Karena akulah tempat kamu bisa selalu pulang.‘ Aku ingin kamu merasakan hal sama sepertiku: pulang, tiap kali kamu bersamaku. Ya, aku sangat menyukai postingan Satu Shaf di Belakangmu itu. Sederhana, tapi penuh makna. Seolah menggambarkan perasaan tiap wanita kepada lelakinya. Seperti aku kepada kamu.

Sekarang… Continue reading

Memori

Postingan ini untuk mengikuti Giveaway #ResiduNamarappuccino
 morning_tea__by_kyrateppelin-d46jihd

***

Tahun pertama.

Aku mengenalmu dengan cara yang tak terduga. Pertama, aku bertemu denganmu beberapa tahun yang lalu di tempat yang jauh dari kata romantis, meski cukup unforgettable: di taman depan gerbang sekolah. Waktu itu, aku sedang duduk menanti ayahku datang menjemput, sedangkan kamu duduk di taman menanti bus. Saat itu hanya tinggal kita berdua. Sekolah sudah sepi, gerbang sekolah sudah dikunci, dan senja mulai menepi. Kamu sempat menengok ke arahku duduk, mungkin kamu penasaran siapa gadis yang belum juga pulang ketika petang datang. Dari sisiku, kamu terlihat begitu dewasa dan berkharisma. Mataku tak bisa lepas dari menatap punggungmu dan sisi wajahmu. Entah, mungkin karena kacamata yang membingkai wajahmu itu begitu pas. Atau, I was just simply.. falling in love with you in the first sight.

Tahun kedua.

Aku tak mengira kalau sketsa punggungmu sore itu masih tertinggal di pikiran dan benakku, ketika aku mendadak teringat sosokmu. Padahal kamu sudah tidak bisa lagi kutemui seperti sore itu. Kamu sudah tidak berseragam sama denganku. Ya, sejak saat itu aku ingat, kamu adalah seniorku. Untuk pertama dalam hidupku, aku merindukan sosokmu yang menunggu bus datang di taman depan sekolah. I missed a person whom his presence was not around. Aku merindukanmu tanpa ada sosokmu disekitarku. Aneh. Tapi, apa itu yang disebut jatuh cinta? Atau aku hanya kagum? Entahlah. Meski begitu, aku mencoba mencari tahu kabarmu lewat orang yang tentunya tak terduga. Kusebut dia sebagai miss cupid kita. Ya, aku diam-diam memendam penasaranku tentangmu. Aku ingin mengenalmu.

Tahun ketiga.

Aku tak tahu apakah takdir yang mempertemukan kita, atau doa-doaku yang membuat kita saling mengenal? Akhirnya, aku dan kamu telah saling mengenal. Prosesnya? Jangan ditanya. Biar jadi rahasiaku dan kamu saja. Walaupun aku dan kamu telah saling mengenal, pertemuan kita hanya hitungan jari. Aku ingat, pertemuan pertama kita. Waktu itu, kamu sedang menghadiri acara besar mewakili sekolahmu. Aku, yang tidak tahu akan bertemu denganmu, datang untuk menyaksikan acara itu juga. Saat aku sedang menunggu acara dimulai, disitulah kamu datang tepat ke arahku. Aku tak menyadari sampai kamu cukup dekat dari jarak pandangku. Masih dengan bingkai kacamata yang sama. Masih dengan kharisma yang sama. Masih dengan wajah yang dewasa yang sama. Well, meski harus kuakui, kamu bertambah hmm.. tampan. Lalu, kamu menyapaku. Gawat, hatiku menjerit-jerit, batinku. Aku gelagapan menanggapi sapaanmu. Aku terpesona. Lagi.

Tahun keempat.

Aku ‘terjebak’ di tempat yang sama denganmu. Continue reading

If We Are Apart..

 8186637012_4515efd012_b
As time goes by,
the feeling begins to grow bigger,
the thought becomes irrational.
When it comes to you,
I’m clueless,
Like a robot without the battery.
The picture of you starts to fade away,
The memories of us begin to blur,
I need to find you,
I have to meet you,
Right here, right now,
to make your presence remain in my life,
to make me believe
that we belong together.
*****
I don’t remember that I wrote this. Been too long stuck in the draft,
it says June 25, 2014. Then just lemme post this before I post part 2
of previous post. 🙂

Okaerinasai

8718549751_99fe958e77_b

Okaerinasai.

You have been here almost 2 months. I welcomed you with the warmest smile I’ve ever given. I was definitely happy waiting you to come back here. I had never expected that it was going to be my last, smiling and hugging you. I had never anticipated to lose you this early.

Ya.. Welcome back home. Home you’d stayed for more than 2 years. Home you’d longed since the first meeting. Home you’d missed whenever you were away. Our Continue reading